Hot! Amir Machmud NS BBM dan Hak untuk “Menjerit”

“CUACA” di seputar rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), diam-diam menciptakan panggung ekspresi manusia: dari wajah-wajah yang (seolah-olah) logis-rasional, wajah yang tak jelas hendak mengatakan apa, wajah gelisah, gusar, marah, tak tahu apa yang mesti dilakukan, hingga wajah-wajah yang apatis.

Aneka ekspresi itu lahir dari manusia-manusia yang berada di balik kelambu kekuasaan dan menetapan kebijakan, orang-orang politik yang menunggu momentum dan menjadikannya sebagai bahan pencitraan, akademisi dengan segala argumen ilmiahnya, para saudagar yang berkalkulasi untung-rugi, kelompok masyarakat yang merasa tak terpengaruh naik seberapa pun harga BBM, hingga rakyat yang pagi-pagi sudah menjerit karena merasa bakal tercekik kenaikan harga-harga bahan kebutuhan pokok dan biaya kehidupan keseharian.

Berbagai ungkapan rasa itu juga banyak menyembulkan pernyataan, sikap, dan tindakan. Misalnya, yang bersifat penjelasan di forum resmi, konferensi pers, pembentukan opini publik lewat media, dengan argumentasi bahwa “memang kenaikan harga itu tidak mungkin terhindarkan , dan pemerintah tidak punya opsi lain terkait BBM untuk menyelamatkan perekonomian di luar kebijakan itu”.

Para akademisi pun terbelah, antara yang “memahami” dan melihatnya sebagai sebuah kondisi yang tak terhindarkan; serta yang memandang masih ada kemungkinan lain ketimbang secara drastis menempuh kebijakan tersebut.

Suara-suara politisi, mudah diperkirakan, saur-manuk berebut ruang untuk memperlihatkan spirit “keberpihakan” yang makantar-kantar. Setiap denyut opini penolakan mendapat dukungan, dan inilah memang momentum besar bagi orang-orang partai untuk menyuarakan keberadaan mereka sebagai penyalur aspirasi wong cilik. Dari sisi “sikap” mengenai kenaikan harga BBM itu, secara ekstrinsik, terasa ada semangat yang direpresentasikan dibandingkan dengan ketika orang-orang parlemen bersikap terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kecenderungan yang berbeda dari suara rakyat.

Ekspresi Rakyat

Suara mahasiswa, sebagai lapis paling keras yang mewakili ungkapan hati dan perasaan rakyat, merupakan ekspresi yang secara konsisten merata sebagai sikap yang sama. Inilah penyambung dan pengawal sesungguhnya dari realitas suara rakyat. Tentu tidak bijak jika dalam kondisi seperti sekarang ada yang memilah-milah: mereka mewakili siapa? Mereka “ketitipan” suara kelompok mana?

Saya lebih melihat unjuk rasa mahasiswa di berbagai daerah: semangat dan elannya; sebagai ungkapan sejati apa yang sekarang digelisahkan oleh rakyat. Maka kita tidak bisa serta-merta meminimalkan besarnya kerisauan itu, misalnya hanya dengan mengatakan, “Kenaikan harga BBM tak perlu diributkan, wong hanya sebesar harga rokok…”

Argumentasi yang seolah-olah mencoba “membumikan” kalkulasi itu memang sah-sah saja, seperti sah pula setiap orang menyatakan pendapatnya. Namun memahami akar kerisauan, membayangkan apa yang akan dihadapi rakyat dengan kenaikan biaya-biaya hidup yang mengadang di depan nanti, serta ikut menghayati; tentu akan lebih bijak.

Artinya, dalam kondisi ketika semua bisa dikomentari, semua memang punya “hak untuk ngomong apa saja”, sehingga hormati pula hak untuk mengekspresikan kegelisahan dan kekhawatiran dengan kenaikan harga BBM.

Rakyat, dalam banyak segi, punya logikanya sendiri untuk menghitung kebutuhan-kebutuhan dari neraca hidupnya. Pendapatan dan pengeluaran. Lalu bagaimana me-manage-nya. Kemudian seperti apa realitanya. Dan, itu ini jelas bukan sekadar urusan harga rokok, karena BBM bertaut langsung dengan elemen-elemen kehidupan yang mendasar. Ketika harga kebutuhan bahan pokok tersentuh dan membubung, biaya tranportasi massal naik, kekhawatiran apa lagi yang terungkapkan kalau bukan hanya dengan menjerit meminta keadilan?

Dan, apakah harga keadilan hidup itu akan cukup terepresentasikan melalui tunjangan langsung tunai, yang dialokasikan sebagai pengganti subsidi?

Untuk sementara, ketika kenaikan harga BBM sudah merupakan “ketok palu eksekusi”, biarlah kita menghargai hak risau rakyat: “hak untuk menjerit”, “hak untuk menangis”. Hanya itu kok, Tuan-tuan…

Author

Amir Machmud NS

Amir Machmud NS

Redaktur Senior Suara Merdeka

Advertisement

4 Comments

  1. saya sepakat dengan statemen pak amir

  2. kalau saya BBM naik setuju setuju saya asalkan bahan barang pokok tidak ikut naik, bisa baca di http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2012/03/16/setuju-bbm-naik/
    BBM naik dengan berbagai persyaratan

  3. Malam Pak Amir Machmud, tetangga saya sebelum kenaikan BBM yang kemudian disusul program BLT beberapa tahun lalu, biasanya memasak dengan kompor minyak tanah. Begitu BBM naik waktu itu, hidup mereka beruah drastis. Tidak lagi memasak pakai kompor minyak tanah. Mereka beralih pada kayu bakar. Ini pun tidak dibeli. Mereka selalu berusaha mencari ranting-ranting pohon jatuh atau potongan-potongan kayu sisa bangunan. Untuk mengumpulkan bahan bakar itu saja bukan hal mudah karena harus terus keliling tiap hari. Uang BLT sebesar 100 ribu perbulan ternyata tidak memberi pengaruh yang signifikan.

    Jika BBM jadi dinaikkan pada awal bulan depan, saya melihat kehidupan mereka tidak akan membaik, sekalipun BLT dinaikkan menjadi 150 ribu per bulan.

    Yang selalu menjadi pertanyaan banyak orang adalah bangsa kita menjual minyak mentah berkualitas tinggi ke luar negeri, tapi kita impor BBM yang kualitasnya lebih rendah. Lha mengapa negara kita seperti tak berkutik pada kondisi ini. Mestinya kita beruntung dengan kenaikan harga minyak dunia, bukannya takut.

    Kegelisahan lain sari masyarakat adalah besarnya nilai korupsi di deluruh Indonesia diyakini mampu menutupi kekurangan APBN kalau usaha pemberantasan korupsi benar-benar diwujudkan seperti janji-janji Presiden. Inilah yang dilihat oleh mahasiswa sehingga mereka cukup keras menunutut tidak diaikannya harga BBM.

  4. Pemerintah belum naikn harga BBM aja para pedagang eceran sudah naikn harga smpe 8rbu/liter….
    Gitu malah masyarakat protes sma pemerintah….
    Masyarkat sndiri yg naikn harga nya….
    Pemerintah yg disalahkn….
    dngan hrga sgitu aja msyarakat msih mau beli….
    Gak usah deh pake demo” smpe gak makan segala…..
    Emank nx dngan cara bgtu harga BBM bisa turun…?
    Harga minyak dunia aja sudah mlambung tinggi sejak tahun 2007….
    Jngan salahkan pemerintah trus….
    Mereka yg pada protes itu,apa bisa melakukan hal yg lebih baik…..??
    Sorry….
    Biar kita sadar aja….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Switch to our mobile site