Aa Gym dan Teh Ninih
“Eh, Aa Gym menikah kembali dengan Teh Ninih ya?” Kala itu seorang teman menginformasikan. ‘’Iya, mudah-mudahan diberi keluarga yang tenang, bahagia, dan penuh rahmat,’’ jawab saya singkat. Mudah-mudahan demikian juga doa dari Anda semua.
Memang, urusan pernikahan dan perceraian dai kondang sekelas Aa Gym ramai menjadi pembicaraan banyak orang. Namun artikel ini saya maksudkan untuk lebih menyoroti diri kita sendiri. Anggap saja Aa Gym dan Teh Ninih sebagai latar belakang membicarakan diri kita sendiri.
Ketika sedang ‘’disukai’’ dulu, sepertinya tak ada hari yang sepi di Pesantren Daarut Tauhid. Berbus-bus rombongan pengajian seperti mengalir untuk mendengarkan tausyiah Aa Gym. Mungkin juga untuk menyaksikan kemesraannya dengan sang istri, Teh Ninih (Mutmainah). Jamaah tumplek bleg. Televisi pun berlomba membuat acara tausyiahnya. Wajah Aa dan keluarga ada di banyak majalah.
Namun, kondisi itu berubah drastis ketika Aa Gym memutuskan untuk menikah kali kedua dengan Teh Rini (Alfarini Eridani). Daarut Tauhid langsung sepi. Usaha di lingkungan pondok pesantren tersebut ikut terimbas. Orang tak lagi berminat untuk berkunjung. Aa Gym pun ‘’menghilang’’ dari berbagai acara di televisi. Orang merasa enggan mendengarkan tausyiahnya.
Pada titik inilah perlunya kita mempertanyakan pada diri kita sendiri; ketika pergi mengunjungi Daarut Tauhid, apakah niat yang ada di dalam hati kita?
Apakah hendak mendengarkan suara tenang dan sejuk sang dai? Mengagumi dan ingin bertemu langsung dengannya yang kala itu sangat terkenal? Ikut-ikutan piknik dan belanja ke Bandung sambil dibalut acara pengajian di Daarut Tauhid? Atau memang murni diniatkan beribadah karena Allah?
Niat yang linnas(karena manusia) menjadikan hati kita menuntut Aa Gym harus tetap sejuk, harus tetap ideal dengan keluarganya, tetap diidolakan sebagai panutan, dan yang penting jangan kawin lagi. Dengan demikian kita akan mau berkunjung ke Daarut Tauhid, mau mengikuti pengajiannya, dan mau mendengarkan tausyiahnya.
Sebaliknya, jika tuntutan di hati kita tak bisa dipenuhi oleh Aa Gym, maka kecewalah yang bertumbuh. Yang keluar di hati kita bisa begini: panutan kok tidak bisa dicontoh, tidak sesuai antara omongan dan kelakuan, meremehkan cinta Teh Ninih dan mungkin meremehkan wanita secara umum.
Jika sejak awal niat di hati adalah karena sosok Gymnastiar, maka wajar saja jika kemudian hati ‘’tercederai’’ manakala dai itu menikah lagi dengan Teh Rini. Hati yang cedera tadi kemudian menjadi kemarahan. Muncullah perasaan tidak terima di hati. Ada yang membela dan kasihan kepada Teh Ninih. Ada yang yang mematikan televisi ketika acara sang dai. Yang paling repot adalah penolakan dalam hati pada hal-hal benar yang keluar dari lisan sang dai. Jika ini yang terjadi sungguh sayang sekali ketika kalam-kalam Allah yang diucapkannya itu kita tolak, hanya karena hati kita tertutup oleh penilaian dan ketidaksukaan kepada Aa Gym.
Sebaliknya, niat lillah tentunya insya Allah akan memberikan pemahaman hati seperti ini: kita datang ke Daarut Tauhid karena memang hendak beribadah, mengikuti pengajian, dan mendekatkan diri kita kepada Allah. Apakah Aa Gym kawin lagi atau tidak, itu bukan urusan kita. Sesungguhnya itu pun menjadi urusan Allah, menjadi urusan antara Aa Gym sendiri dengan Allah. Yang penting kita menjaga hati kita dan selalu meminta kepada Allah untuk meneguhkan niat kita selalu lillah. Dengan demikian, yang masuk ke telinga, pikiran kita, dan hati kita adalah kebenaran dari yang disampaikannya. Bukan yang lain-lain.
Memang, menjaga kelurusan niat di hati ini bukan perkara mudah. Godaan-godaan berbagai niat lain bergelombang datang hendak mengusik niat lillah kita. Contoh sederhana: Ketika sedang lewat di perumahan. Niat kita bisa kita cek dengan persoalan sepele ini. Saat kita melewati tetangga, kemudian kita menganggukkan kepala dan mengajak senyum namun tetangga diam saja, apakah yang terbit dalam pikiran dan hati kita?
Kalau linnas, tentu saja kita akan menuntut tetangga wajib membalas anggukan itu. Kalau dia diam saja, wah sombong amat ini tetangga. Awas ya, lain kali tidak mau aku menyapamu lagi. Insya Allah tentu berbeda kalau lillah, wah mungkin dia lagi melamun, mungkin sedang banyak pikiran sehingga meskipun kayaknya beradu pandang tetapi sedang tidak fokus. Yang paling penting adalah adanya kesadaran di hati bahwa menyapa dan tersenyum kepada tetangga itu juga bagian dari ibadah kita. Seperti sabda Rasulullah, ‘’senyummu kepada saudaramu adalah ibadah’’. Jadi karena itu ibadah dan lillah, maka mudah-mudahan Allah memberikan keikhlasan kepada kita.
Dalam sebuah seminar, ketika bertanya kepada pembicara, apakah niat kita sesungguhnya? Ingin menguji pembicara, karena sebenarnya kita sudah tahu jawabannya? Biar peserta lain tahu bahwa kita juga punya pendapat bagus? Atau karena memang ingin menambah ilmu dari jawaban pembicara?
Satu contoh lagi soal niat ini. Tidak usah jauh-jauh. Ketika menulis artikel ini pun banyak jenis niat yang tumbuh di hati. Muncul kehausan untuk dikenal banyak orang, keinginan diakui bisa menulis, muncul kelaparan akan pujian, muncul kecemasan dicacimaki orang yang tidak setuju, dan lain-lain yang semuanya merupakan wujud linnas.
Tentu saja di tengah-tengah banyaknya niat tadi, yang bisa kita lakukan adalah meminta kepada Allah agar memberi keteguhan niat dalam lillah. Niat karena Allah inilah yang akan memberikan keikhlasan kepada kita untuk melakukan segala aktivitas, di hati kita, pikiran kita, dan lisan kita. Dengan begitu, sepanjang menulis artikel ini hati dan pikiran mudah-mudahan Allah jaga supaya tetap dalam kerangka beribadah kepada-Nya. Sampaikanlah walau satu ayat, demikian perintah-Nya.
Coba, mari kita cek lagi niat yang mendasari semua aktivitas kita sehari-hari. Ketika berangkat bekerja; menulis artikel, cerpen atau buku; menjadi pejabat pemerintahan; menjadi pimpinan suatu organisasi; yang sepele seperti berpakaian, makan, minum; bahkan dengan ibadah kita seperti shalat, puasa, zakat, dan berangkat haji.
Apakah ketika berangkat bekerja yang ada cuma niatan mencari uang ataukah mencari rahmat Allah? Ketika menulis buku itu ingin kemasyuran ataukah ingin melaksanakan syiar? Apakah menjadi pejabat dan pimpinan itu karena kekuasaan ataukah amanah-Nya? Apakah kita berpakaian karena menaati perintah menutup aurat atau karena ingin dipuji pakaiannya bagus dan modis? Makan karena menjawab rasa lapar saja atau makan dengan rasa syukur?
Ibadah kita, apakah shalat karena ingin dianggap sebagai orang yang saleh atau sebagai salah satu sarana mendekatkan diri kepada-Nya? ‘’Puasa’’ di tempat ramai, tetapi makan kalau lagi sendiri? Zakat karena ingin dipuji sebagai dermawan atau karena keikhlasan? Dan haji, karena ingin gelar supaya derajatnya naik di mata orang atau karena ketaatan terhadap perintah-Nya?
Allah sebenarnya sudah mengajarkan niat ikhlas kepada kita, bahkan kita membacanya setiap shalat. Perhatikanlah doa iftitah di setiap shalat kita. Itulah janji kita kepada Allah. ‘’Sesungguhnya shalatku, pengurbananku, hidupku, dan matiku lillahi rabbil alamin’’. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan menjaga kelurusan niat.
Kembali ke Aa Gym. Ketika Teh Ninih akhirnya meminta cerai, Aa Gym memang semakin menghilang dan alhamdulillah dia kemudian justru menemukan kesadaran diri. Hal tersebut pernah dikemukakannya dalam suatu kesempatan. Selama ini ternyata dia telah tertipu oleh kemasyuran, sanjungan, pengidolaan yang berlebihan dari para jamaahnya. Inilah yang membuatnya lupa. Kedekatan dengan istri dan anak-anaknya semakin berkurang dengan padatnya jadwal yang terus dikejarnya itu. Dia terlena oleh ketenaran.
Namun ternyata ada saja suara sumbang yang menyambut kesadarannya itu. Mereka mengatakan, itulah akibatnya kalau panutan tak bisa lagi dipercaya. Mereka menganggap, setelah terpuruk barulah Aa Gym sadar. Namun kesadaran itu mereka anggap karena Aa Gym kehilangan kebesaran Daarut Tauhid dari sisi materi. Ungkapan yang ditujukan kepadanya lebih terasa sebagai sebuah olok-olok, daripada dukungan dan ucapan syukur kepada seseorang yang pada akhirnya menyadari kekeliruannya.
‘’Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan’’. (QS 2:7). Jika ternyata kesadaran Aa Gym adalah kesadaran yang sebenarnya dan kemudian Allah menerima taubatnya, lalu apakah hak kita ‘’menghakimi’’ perjalanan kesadarannya?
Kesadaran ini rupanya juga membawa dampak niatan untuk kembali menikah dengan Teh Ninih. Teh Rini pun mendukung niatan ini. Setelah shalat istikharoh, Teh Ninih pun menerima pinangan kembali Abdullah Gymnastiar. Apa jawaban Teh Ninih ketika ditanya kenapa menikah lagi dengan Aa Gym? ‘’Mencari ridho Allah’’. Lihatlah niatan yang benar ini. Jika memang itu yang Teh Ninih niatkan, jika memang itu yang Teh Rini niatkan, dan jika juga itu yang Aa Gym niatkan, maka yang harus kita lakukan adalah ikut mendoakan mereka.
Namun di tengah berita gembira itu, saya mendengar sendiri ada yang bilang begini: ‘’Menurutku yang paling ideal ya Aa Gym menceraikan Teh Rini saja’’. Masya Allah, pendapat apa pula ini? Dari dorongan hati yang mana pula ini? Jika Allah menjawab doa mereka, dan kemudian memuliakan mereka sebagai sebuah keluarga besar dan memberikan ridho-Nya, apakah hak kita untuk menilai mereka?
Allah berfirman: ‘’Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).’’ (QS 49:11)
Kesadaran Aa Gym, keputusan Teh Ninih menikah lagi, dorongan Teh Rini, insya Allah adalah niat-niat yang lillah. Jadi daripada sibuk mengurusi apa yang sedang diniatkan oleh keluarga besar Aa Gym, bukankah lebih baik kita melihat ke diri kita sendiri? Sudah lillah-kah niat dari semua sisi kehidupan kita?
Sekali lagi, pembicaraan ini bukan tentang Aa Gym, Teh Ninih, atau Teh Rini. Ini tentang diri kita sendiri. Marilah kita perhatikan lisan kita, pikiran kita, dan terutama hati kita, ke manakah mereka menuju?
Jagalah hati, jangan kau nodai. Jagalah hati, lentera hidup ini.(*)
Merangkai kata, bahkan menyanyikannya lebih mudah dibanding mengamalkannya.
Andai saja yang menyanyikan syair tersebut juga mengamalkannya.
Jagalah hati diri kita..
Jagalah hati orang tua kita..
Jagalah hati istri kita..
Jagalah hati anak-anak kita..
Jagalah hati saudara kita..
Jagalah hati tetangga kia..
Jagalah hati tamu kita..
dan seterusnya..
Inysaallah.
jagalah hati jangan kau kotori jagalah hati jangan coba berpoligami
Tulisan yang bagus pak
Terimakasih telah mengingatkan. Bisa menjadi renungan dan muhasabah diri saya.
Mohon ijin share ya pak
sebaiknya sebelum melakukan sesuatu itu memang musti diperhitungkan dulu masak-masak. Menjadi panutan banyak orang tentunya ada konsekwensi-konsekwensi dan kaidah-kaidah yang harus dipertimbangkan dan diperhitungkan daripada menjadi orang yang biasa-biasa saja.
ijin baca gan ,,
ditunggu kunjungan baliknya nih gan ..
Menikah dan bercerai rahasia Allah. Sekalipun agak kurang sreg dengan kisah nikah dan cera Aa, tapi semoga ini pernikahan yang terakhir ya Aa ? Dan semoga langgeng dan bahagia . . . .