Hot! Bambang Isti Ironi Sekolah Negeri di Awan

JANGAN berpikir tentang sekolah berstandar internasional (SBI), kelas imersi, atau jenjang akselerasi, ketika kita berada di Kelurahan Ngaliyan, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang. Saat ini di sana terdapat dua SD negeri yang kondisinya sangat mengenaskan.

SBI, imersi atau akselerasi yang notabene adalah produk sekolah unggulan, ujung-ujungnya bicara tentang biaya tinggi. Itu mungkin tidak pernah terpikirkan oleh segelintir peserta didik di SDN Ngaliyan 04 dan SDN Ngaliyan 06 yang terancam bangkrut karena kekurangan siswa.

Di kalangan birokrat Dinas Pendidikan Kota Semarang, kedua sekolah itu cukup populer. Bahkan popularitasnya melebih sekolah SBI. Alih-alih keduanya berada di atas perbukitan, maka dinamailah mereka sebagai “sekolah negeri di awan”.

Kedua sekolah itu berada di ketinggian bukit di Kelurahan Ngaliyan, Kecamatan Ngaliyan. Bahkan berada di tengah kepungan pabrik, di atas tanah otoritas PT Indo Perkasa Utama (IPU) yang sewaktu-waktu tanpa ampun bisa mencaplok lahan di mana berdiri dua SD negeri yang sudah berdiri sejak bertahun-tahun silam.

Karena terpencil dengan akses yang susah dijangkau, maka keduanya kesulitan pula mendapatan peserta didik. Bahkan dari hari ke hari, para guru di SDN Ngaliyan 04 misalnya, merasakan gedung yang mereka tempati itu terus bergeser dari tempat aslinya. Mungkin sejak sekolah itu dibangun tahun 1982, terjadi pergeseran sekitar 15 meter karena adanya pergerakan bumi.

Hiruk Pikuk UN

Sepekan terakhir, isu adanya sekolah-sekolah yang kondisinya fisik begitu mengenaskan kembali terungkap saat tiba musim ujian nasional (UN) tingkat SD. Lihat saja ironi ini. Ketika semua sekolah tengah hiruk pikuk melaksanakan UN tingkat SD, ada dua sekolah yang terpuruk dengan kondisi memprihatinkan seperti itu.

Bahkan salah satu dari sekolah itu, yakni SDN Ngaliyan 06 terpaksa tidak menyertakan peserta didiknya untuk ikut UN menyusul tidak adanya siswa kelas enam. Sementara sekolah tetangganya, yakni SD Ngaliyan 04, 17 siswanya mengikuti ujian dengan kondisi ruangan yang sangat mengenaskan.

Disebut ironi karena ketika Kota Semarang tengah bersemangat membangun infrastruktur dan properti seperti sarana apartemen dan perkantoran bertingkat, tapi masih ada sarana pendidikan yang terbengkalai.

Fakta adanya dua gedung sekolah, yakni SDN Ngaliyan 04 dan SDN Ngaliyan 06 yang secara fisik tidak lagi memenuhi syarat untuk sarana belajar mengajar. Ini seharusnya bisa membuka mata hati Pemerintah Kota Semarang.

Pihak Dinas Pendidikan Kota Semarang sangat memaklumi situasi dan kondisi yang menimpa SDN Ngaliyan 06, terkait dengan ketidakikutsertaannya dalam UN.

“Kami sudah mempelajari kronologinya, mengapa sampai kekurangan murid seperti itu. Karena itu kami selalu mengevaluasi hal-hal dan isu-isu apa. Apakah masyarakat yang memang terlalu berlebihan menilai keberadaan sekolah itu, atau bagaimana? Ini semua sedang kami pelajari,” kata Drs Soejono Msi, kepala Bidang Dikdasmen Dinas Pendidikan Kota Semarang.

Pengeruk Tanah

Sekolah yang hanya terdiri atas tiga ruang kelas dan satu ruang guru itu terletak di atas bukit terpencil di RT 3 RW 9 Kampung Desel, Kelurahan Ngaliyan. Di sekitar sekolah kini dikepung oleh mesin pengeruk tanah.

Pernah ada usulan untuk dimerger. Bahkan kegiatan belajar mengajar pernah dihentikan selama tiga tahun. Maka akibat dari penghentian itu, siswa kelas enam sudah habis tahun 2011 lalu. Karena itulah, tahun ini SD ini tak mengikuti ujian.

Namun oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kecamatan Ngaliyan yang baru, rencana itu dibatalkan dan kembali menerima peserta didik. “Maka sekarang ini yang ada adalah siswa kelas satu, dua, dan tiga,” kata Yohanes, salah satu guru.

Nasib SD Negeri Ngaliyan 06 apakah akan dipindah dengan sistem tukar guling dengan menempati lahan baru atau tetap berada di lokasi itu, sampai kini masih menjadi pertanyaan besar bagi para pengajar.

Sebelumnya pernah ada rembugan antara pihak IPU dengan Pemkot. Bahkan masalah ini sampai ke DPRD segala. Setelah itu Pemkot melakukan survei ke lokasi yang ditawarkan IPU.

Namun terakhir diketahui lahan baru itu pun bermasalah karena termasuk sabuk hijau, yang sangat diharamkan untuk dibangun apa pun. Maka lengkap sudah penderitaan dan ironi ini. Siapa kini yang mau peduli dengan nasib anak-anak para penerus bangsa?

Author

Bambang Isti

Bambang Isti

Redaktur Pelaksana suaramerdeka.com

Advertisement

6 Comments

  1. Mudah mudahan sekolah ini tetap eksis, karena lokasinya yg unik mungkin kedepan bisa jadi tempat wisata…

  2. hmm.. begitu rupanya..

  3. masa rakat, terutama pers harus proaktif memperjuangkan mengontrol agar hak pendidikan masyarakat terpenuhi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Switch to our mobile site