Ribut Waidi dan Generasi Kami
1987. PSIS berhasil menjuarai Kompetisi Perserikatan Divisi Utama. Indonesia berhasil meraih medali emas di cabang sepak bola. Yang pertama bagi PSIS dan yang pertama pula untuk timnas.
Dua prestasi tersebut setidaknya merujuk pada satu nama, Ribut Waidi. Meski gol kemenangan PSIS atas Persebaya dicetak rekannya, Syaiful Amri, Ribut dipilih sebagai pemain terbaik pada partai menegangkan itu. Sementara di SEA Games, Ribut menjadi pahlawan berkat gol tunggalnya ke gawang Malaysia di saat pertandingan hampir berakhir.
Ribut Waidi. Nama itu, bersama beberapa rekannya di PSIS seperti Budi Wahyono dan Syaiful Amri segera menjadi idola bagi masyarakat Semarang pecinta bola. Kemenangan yang mereka raih seolah tak akan pernah bisa disamai dengan pretasi serupa berikutnya.
Ribut Waidi. Nama itu, bersama beberapa rekannya di PSIS seperti Budi Wahyono dan Syaiful Amri segera menjadi idola bagi masyarakat Semarang pecinta bola. Kemenangan yang mereka raih seolah tak akan pernah bisa disamai dengan pretasi serupa berikutnya.
Saya baru saja masuk SD saat PSIS menjadi juara untuk kali pertama. Saya masih ingat, bagaimana euforia kemenangan tersebut di antara teman-teman bermain, pun masyarakat Semarang. Suasana saat itu terasa lebih terkenang karena memang kondisinya beda dengan sekarang. Dulu, saya dan teman-teman di kampung hanya bisa mengikuti jalannya pertandingan lewat siaran langsung RRI. Untuk datang ke stadion, kami
merasa terlalu kecil selain tak juga punya cukup uang untuk membeli tiket.
Sementara stasiun TV swasta belum ada, sedangkan TVRI hampir tak pernah menyiarkan langsung pertandingan sepak bola. Meski demikian, kami selalu mengikuti pertandingan demi pertandingan. Pada laga tandang, kami akan mendengarkan siaran berita yang ikut
mengabarkan hasilnya. Jika terlewat, kami cukup bersabar menunggu kabar dari koran keesokan hari.
Saya juga masih ingat, kami mempunyai semacam buku harian tentang PSIS. Kami mencatat pertandingan lawan siapa, berapa skor akhir, siapa yang mencetak gol (bahkan di menit keberapa), dan juga terhukum kartu kuning atau kartu merah serta siapa pemain inti dan cadangan. Cukup lengkap. Karena data-data itu, saya juga masih ingat bagaimana
ketegangan jelang partai final. Bak pengamat ulung, kami saling berkomentar dan adu pendapat soal itu. Ketegangan muncul, karena PSIS yang sempat menjadi juara
grup di babak awal, justru hanya menjadi peringkat dua di babak enam besar. Sementara lawan di final itu adalah Persebaya. Musuh bebuyutan yang belum pernah dikalahkan baik pada babak awal maupun enam besar. Bahkan tim itu menduduki peringkat pertama babak enam besar tanpa pernah kalah.
Tapi kemenangan ada di PSIS. Sejak itu, saat bermain bola kami selalu membayangkan diri sebagai Ribut, Budi, atau Syaiful. Kami bahkan berebut untuk bisa menyebut diri kami sebagai mereka. Bahkan ada juga teman yang menulis nama Ribut di bagian belakang kaos agar dia selalu menjadinya.
Saat itu tentu saja, masih sangat sedikit pedagang kaos tim seperti sekarang. Saya tahu kini, kemenangan itu terasa sangat berarti bagi masyarakat karena terjadi di tengah keterimpitan zaman. Masa itu adalah saat-saat “kegemilangan” Orde Baru di bawah Soeharto. Represivitas dan keterbatasan akses di kala itu, membuat kemenangan PSIS serta timnas adalah pelipur lara yang tepat. Saya yakin kini, kemenangan saat itu tak pernah bisa disamai dengan kemenangan-kemenangan berikutnya.
Kabar mangkatnya Ribut Waidi saya terima beserta ingatan-ingatan itu. Saya masih mengingat betul golnya saat mencetak gol ke Malaysia. Juga gayanya di lapangan, ketika akhirnya ayah mengajak nonton PSIS langsung dari tribun Stadion Diponegoro. Terima kasih Ribut Waidi.(*)
merasa terlalu kecil selain tak juga punya cukup uang untuk membeli tiket.
Sementara stasiun TV swasta belum ada, sedangkan TVRI hampir tak pernah menyiarkan langsung pertandingan sepak bola. Meski demikian, kami selalu mengikuti pertandingan demi pertandingan. Pada laga tandang, kami akan mendengarkan siaran berita yang ikut
mengabarkan hasilnya. Jika terlewat, kami cukup bersabar menunggu kabar dari koran keesokan hari.
Saya juga masih ingat, kami mempunyai semacam buku harian tentang PSIS. Kami mencatat pertandingan lawan siapa, berapa skor akhir, siapa yang mencetak gol (bahkan di menit keberapa), dan juga terhukum kartu kuning atau kartu merah serta siapa pemain inti dan cadangan. Cukup lengkap. Karena data-data itu, saya juga masih ingat bagaimana
ketegangan jelang partai final. Bak pengamat ulung, kami saling berkomentar dan adu pendapat soal itu. Ketegangan muncul, karena PSIS yang sempat menjadi juara
grup di babak awal, justru hanya menjadi peringkat dua di babak enam besar. Sementara lawan di final itu adalah Persebaya. Musuh bebuyutan yang belum pernah dikalahkan baik pada babak awal maupun enam besar. Bahkan tim itu menduduki peringkat pertama babak enam besar tanpa pernah kalah.
Tapi kemenangan ada di PSIS. Sejak itu, saat bermain bola kami selalu membayangkan diri sebagai Ribut, Budi, atau Syaiful. Kami bahkan berebut untuk bisa menyebut diri kami sebagai mereka. Bahkan ada juga teman yang menulis nama Ribut di bagian belakang kaos agar dia selalu menjadinya.
Saat itu tentu saja, masih sangat sedikit pedagang kaos tim seperti sekarang. Saya tahu kini, kemenangan itu terasa sangat berarti bagi masyarakat karena terjadi di tengah keterimpitan zaman. Masa itu adalah saat-saat “kegemilangan” Orde Baru di bawah Soeharto. Represivitas dan keterbatasan akses di kala itu, membuat kemenangan PSIS serta timnas adalah pelipur lara yang tepat. Saya yakin kini, kemenangan saat itu tak pernah bisa disamai dengan kemenangan-kemenangan berikutnya.
Kabar mangkatnya Ribut Waidi saya terima beserta ingatan-ingatan itu. Saya masih mengingat betul golnya saat mencetak gol ke Malaysia. Juga gayanya di lapangan, ketika akhirnya ayah mengajak nonton PSIS langsung dari tribun Stadion Diponegoro. Terima kasih Ribut Waidi.(*)
–menyimak–