Hot! Bambang Isti Semarang, Kota MICE atau Kota Mouse?

INI serius, tidak becanda. Di seantero Indonesia, Kota Semarang berada di urutan kesembilan dari 11 kota wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition). Peringkat ini mengacu pada versi Majalah Tourism Watch.

Menurut para pelaku dan penggiat industri pariwisata saat melakukan seminar Bina Usaha Pariwisata Kota Semarang di Hotel Grand Candi akhir Juni 2012 lalu, posisi kesembilan dari 11 ini cukup lumayan, meski belum membanggakan.

Mengingat, seperti kata teman saya Benk Mintosih, salah satu penggiat pariwisata yang juga General Manager Hotel Horison Semarang itu, untuk julukan Semarang sebagai Kota MICE, sudah berhasil menggeser kota Solo, menyusul Solo sudah memosisikan dirinya sebagai kota event.

Harus diingat pula, mengapa Solo berposisi sebagai kota event memang beralasan. Karena dalam setahun, ia memiliki sekitar 54 event wisata dari berskala nasional sampai internasional yang bisa dibanggakan.

Jika boleh membandingkan dengan Kota Semarang yang hanya punya event dalam hitungan jari, sehingga membuka ibu kota Jawa Tengah ini tidak ada apa-apanya dibandingkan Solo.

Kasus dekat saja, untuk menggarap Semarang Nigth Carnival yang selalu dibilang Plt Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi,  sebagai proyek besar, Semarang harus melakukan “kursus kilat” dengan Solo yang sudah berpengalaman dnegan Solo Batik Carnival-nya.

Meski Majalah Tourism Watch sudah berbaik hati menempatkan Semarang sebagai Kota MICE, sejumlah kalangan masih saja skeptif.

Eko Suseno HRM, seorang pakar MICE mengatakan, sebetulnya ada beberapa hal yang menjadikan Semarang belum diperhitungkan di dunia MICE. Misalnya di Semarang ini belum adanya kegiatan turistik yang yang menarik. Kalaupun ada, belum adanya integrasi aktivitas pariwisata. Juga belum adanya peningkatan kelompok sadar wisata, misalnya dengan memberdayakan becak dan dokar sebagai aset konvensional.

Urutan Kota MICE menurut Majalah Tourism Watch, pertama adalah Jakarta, disusul Bali, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Surabaya, Medan, Manado, Semarang, dan Batam. Idealnya, menurut Eko Suseno, posisi kesembilan ini ke depan harus bisa ditingkatkan lagi.

Branding Kota

Tapi urusan untuk meningkatkan peringkat urutan memang panjang. Mengingat seperti kata Eko Suseno, Kota Semarang belum memiliki branding kota (city branding) yang spesifik yang bisa mengangkat pamor dan segera menarik pendatang untuk berkunjung.

Di Semarang, tempat pergelaran dan ekonomi pun kurang teratur, promosi hotel juga kurang terintegrasi dengan wisata. Juga belum digarapnya wisata alam. Intinya, menurut Eko, semua kegiatan wisata di kota ini belum berdampak nyata pada masyarakat.

Tak kurang-kurang Gubernur Jateng Bibit Waluyo selalu menjual nama Semarang di dunia internasonal, khususnya untuk program “Visit Jateng 2013″. Bahkan menjelang dan di sela-sela tahun kunjungan Jateng itu terdapat acara yang secara otomatis sudah mendatangkan tamu-tamu internasional, misalnya Borobudur Interhash yang digelar beberap waktu lalu.

Mulai sekarang sebenarnya Pemerintah Kota Semarang bisa segera mulai pasang kuda-kuda dengan terpilihnya Semarang sebagai tuan rumah Indonesian Corporate Meeting & Incentive Travel Mart (ICMITM) pada Juli 2013 mendatang.

Acara ini merupakan agenda tahunan atas kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemparekraf) dengan Bank Danamon America Express yang sudah memasuki tahun kelima.

Pada forum itu dipertemukan lebih dari 100 perusahaan multinasional, klien korporasi Bank Danamon American Express dari dalam dan luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Filipina, India, dan China. Noor Huda Ismail, salah daru penggiat pariwisata, berharap sebagai destinasi kegiatan, akan terjadi multiplier effect bagi peningkatan perekonomian masyarakat Semarang.

Baik Visit Jateng 2013 maupun ICMITM, semua itu adalah “PR” bagi Pemerintah Kota termasuk stakeholder-nya. Karena julukan menuju Kota MICE bisa menjadi sangat rawan jika tidak disikapi dengan sungguh-sungguh.

Bahwa seperti umumnya proyek-proyek yang lain, semua urusan wisata pun rentan untuk diselewengkan. Saya takut lidah keseleo sehingga menyebut Semarang Kota MICE menjadi Semarang Kota Mouse, karena ternyata di kota ini memang banyak “tikus-tikus” bergentayangan baik di gedung-gedung pemerintahan atau di gedung rakyat bernama DPRD.

Dan fakta itu sudah berbicara, justru ketika ibu kota Jateng ini sedang berbenah. Ironikah ini namanya? (*)

Author

Bambang Isti

Bambang Isti

Redaktur Pelaksana suaramerdeka.com

Advertisement

2 Comments

  1. Harusnya ini cukup menampar petinggi Semarang untuk bekerja lebih giat lagi, agar lebih moncer dan berkesan…

  2. Tulisan yangg straight to the point mas Bambang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Switch to our mobile site