Hot! Bambang Isti Meretas Mimpi Sang Jenderal

LUNGLAI dan gamang. Itu kira-kira yang dirasakan oleh rekan-rekan penggiat wisata yang tergabung dalam Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS) saat mendengar Gubernur Akademi Kepolisan, Irjen Pol Djoko Susilo ditetapkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus pengadaan simulator SIM.

Kabar tidak sedap itu justru diterima rekan-rekan penggiat wisata satu sejam setelah mereka bertemu dengan Djoko Susilo untuk membahas memory of understanding (MoU) antara Akpol dengan BP2KS.

Pertemuan di salah satu ruang gedung Tribrata Utama Senin (30/7) jam 08.00 WIB bahkan berlangsung gayeng, penuh canda. Padahal, bisa jadi, khabar yang sama juga diterima oleh mantan Kepala Korlantas Polri itu pada hari yang sama, pagi itu juga.

Jika ini benar, betapa tabah dan tegarnya sang jenderal bintang dua ini. Yakni Bagaimana dia harus mengelola perasaannya di tengah tamu-tamunya hari itu, alih-alih bahwa seolah tidak sedang terjadi kemelut pada diri sang jenderal. Bahwa semuanya seolah baik-baik saja.

Rasanya mustahil. Pak Djoko begitu low profile, demikian salah satu rekan mengobrol lewat BB massanger dengan saya. Semuanya di luar dugaan. Keramahannya, keterbukaannya, dan harapan-harapannya untuk memajukan kepariwisataan Kota Semarang dengan membuka kompleks Akpol sebagai destinasi wisata baru di Semarang, begitu membesarkan hati.

Lalu akankah menjadi pupus begitu saja?

Iklim keterbukaan dari Akademi Kepolisian itu, tak urung disambut suka cita oleh para pelaku industri parwisata, mengingat kota ini sedang menggalakkan industri pariwisata dengan program Semarang sebagai kota Meeting, Incentive, Convention Exibition (MICE).

Sebenarnya ini merupakan mimpi Irjen Pol Drs Joko Susilo SH M.si, Gubernur Akpol untuk menjadikan Akpol sebagai destinasi wisata, karena sebenarnya, seperti kata dia, kampus Akpol ini adalah milik masyarakat kota Semarang dan bukan tempat pendidikan eksklusif, yang membuat madyarakat gamang memasuki areanyaa.

“Semua taruna dan taruni yang ada di Akpol merupakan miniatur mini Nusantara. hampir semua etnis Indonesia ada di Akpol,” kata Joko Susilo yang baru empat bulan menjabat sebagai gubernur Akpoldi sebuah hotel di kawasan Candi Baru.

Tidak takut

Menurut Joko Susilo, kampus Akademi Kepolisian memiliki potensi-potensi wisata baik dari segi alam, udara, dan kawasan taman kampus seperti jogging track dan sejumlah atraksi wisata seperti drumband Akpol yang sangat fenomenal bertahun-tahun itu. “Mari sekarang silakan masuk Akpol dan meramaikan kampus ini,” ajak Joko Susilo.

Maka diharapkan warga tidak akan takut lagi masuk ke lingkungan kampus Akademi Polisi (Akpol), menyusul telah dibukanya kompleks Akademi Polisi (Akpol) Semarang sebagai destinasi pariwisata unggulan ini.

Sebagai bukti keterbukaan itu, beberapa hari sebelum tibanya bulan ramadan kamrin, Djoko Susilo mengajak bereliling kampus Akpol para penggiat pariwisata Semarang. Benar, kampus ini sepetu laiknya bukan sarana pendidikan, tapi lebih mirip takan kota.

Menggunakan dua bus milik Akpol, rombongan yang dipimpin Kepala Disbudpar kota Semarang Nurjanah ini, bahkan diajak mengunjungi pusat latihan Jakarta Centre for Law Enforcement Cooperation (JCLEC) yang dikelola Australian Federal Police.

JCLEC sebuah tempat yang tidka bisa dijamah oleh sembarang orang, sekali pun oleh taruna dan taruni. “Ya, JCLEC memang salah satu sarana pendidikan yang tidak bisa dikunjungi oleh semua orang,” tambah Birgjen Pol Bambang Usadi, Wakil Gubernur Akpol pada saya di halaman JCLEC.

Cerita Bambang Usadi yang sekarang menjabat Gubernur Akpol menggantikan Djoko Susilo, “Tempat ini memang bukan milik Akpol, tapi disediakan oleh pihak Akpol lahan seluas 6 hektare dari 120 hektare lahan yang ada,” kata Bambang.

Tempat ini menjadi pusat latihan penegak hukum antarnegara tapi berada di lingkungan kampus yang dilengkapi dengan berbagai ruang pelatihan dan sarana penginapan setaraf kamar hotel berbintang. Orang jadi tdka mengira, ternyata Semarang memiliki temoat berkelas dunia, karena di dalam JCLEC banhyak dihuni oleh polisi-polisi dari berbagai negara.

Brian Thomson, salah satu perwira kepolisian Australia yang menjadi direktur program JCLEC mengajak para penggiat pariwisata Semarang ke beberapa sarana latihan dan asrama para peserta pelatihan, serta sarana penginapan para instruktur serta hutan tanaman yang digelar di sekitar JCLEC

Kota Semarang, dengan segala semangatnya selama ini untuk menjadi metropolis di negeri ini, mengapa selalu terganjal oleh hal-hal yang sifatnya nonteknis?

Belum lekang dari ingatan kita, saat kota ini sedang menuju kesetaraan dengan metropolis lain, dengan kegairahannya membangun infrastruktur, tapi tiba-tiba sebongkah batu menghadang kelancarannya.

Soemarmo, orang nomor satu di kota ini, harus berurusan dengan KPK. Sampai yang terakhir perjalanan nasibnya sudah sampai pada tuntuan vonis.

Lalu, pekan lalu, bongkahan batu besar itu kembali menyandung Semarang, saat para penggiat pariwisata ingin bergandengan tangan – meminjam istilah Benk Mintosih, pelopor BP2K – dengan Akpol.

“Terlepas dari apapun, kami tetap berharap penggiat pariwisata dan Akpol tetap bergandengan tangan. Pemikiran Pak Djoko yang visioner dan luar biasa tetap harus kita tindaklanjuti buat perkembangan Semarang,” kata Benk Mintosih.

Ya, impian sang jendral yang indah itu, memang harus diwujudkan.

Author

Bambang Isti

Bambang Isti

Redaktur Pelaksana suaramerdeka.com

Advertisement

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Switch to our mobile site