Ketika Puasa Usai
BEBERAPA hari lagi Bulan Ramadan yang mulia ini akan berlalu dari hadapan kita. Puasa kita pun usai. Pertanyaan mendasar yang perlu kita tujukan kepada diri kita adalah pelajaran apa yang sudah kita petik dari Ramadan kali ini?
Mungkin hanya pelajaran untuk menahan makan dan minum. Namun bukan tidak mungkin kita juga sudah mengambil pelajaran untuk menahan lisan kita dari mengatakan sesuatu yang tidak berguna. Menahan ucapan sumpah serapah, atau bahkan ucapan yang menyakiti hati orang lain. Kita mungkin berjuang untuk tidak membicarakan keburukan orang lain (ghibah).
Rasulullah melarang kita mengghibah yang diistilahkan sebagai memakan daging saudara sesama muslim. Ketika seorang sahabat menanyakan bagaimana jika sifat itu memang melekat pada orang yang dibicarakan? Nabi menjawab,’’Kalau benar demikian orang itu, maka kalian melakukan ghibah. Kalau tidak benar kalian memfitnah’’.
Pelajaran lain adalah menahan mata kita dari melihat yang tidak diperbolehkan Allah SWT. Internet menjadikan mudah akses untuk melihat gambar-gambar yang selayaknya tidak kita pandang. Tinggal ketahanan diri kita untuk tidak menurutkan keinginan mata melihatnya. Mungkin pula pelajaran untuk tidak melihat wanita dengan syahwat, karena merasakan Allah-lah yang mengawasi kita, bukan orang lain. Telinga kita pakai untuk lebih mendengarkan hal-hal yang bermanfaat bagi perkembangan keagamaan. Tangan ini sudahkah melakukan pekerjaan yang bermanfaat? Kaki sudahkah tertahan untuk tidak melangkah ke hal-hal yang dilarang oleh agama kita?
Di lingkungan kita, kalau tak berani mengucapkan, maka komentar dalam hati ini juga demikian mudah terlontar. ‘’Wah si bos ini kok sukanya marah melulu ya’’ atau ‘’Walah punya staf kok susah diajak maju’’. Apalagi kalau bertemu dengan orang yang jelas-jelas tidak kita sukai, perkara mbatin ini bisa tidak terkontrol. Tiap orang itu mengucapkan sesuatu, bisa jadi hati kita selalu mencibirnya.
Sudahkah kita dengan sadar mendeteksi apa yang berdetak di hati kita ini? Sudahkah kita belajar untuk mengeremnya? Orang perlu menyadari apa saja yang berdenting di dalam hatinya. Dengan demikian dia akan tahu apa saja yang baik dan apa saja yang harus dikontrol.
Lebih jauh tentang hati ini, pelajaran yang bisa kita ambil adalah sudahkah hati ini bersyukur. Biasanya kebanyakan dari kita akan mengucapkan syukur dengan dorongan hati yang penuh apabila kita memperoleh rejeki yang nampak secara finansial. Dapat THR misalnya, maka ucapan syukur di lisan akan disertai dorongan hati yang bersyukur. Rejeki lain misalnya dapat proyek, dapat honor ceramah dan hal-hal lain yang bersifat materi.
Padahal jika kita menyadari, cakupan rejeki Allah yang diberikan sungguh sangat luas. Mari kita mulai saat bangun pagi. Rejeki melihat dengan mata kita yang sehat, sudahkah terpikir? Dengan mata yang sehat kita bisa menatap anak istri/suami, memandang hijau pepohonan di halaman depan, atau menyaksikan cerahnya langit. Bagaimana jika kita diberi sakit yang mengurangi penglihatan kita? Telinga kita bisa mendengarkan kicau burung di rindang dedaunan, atau mendengar canda anak-anak. Pernahkah membandingkan dengan jika kita tak bisa mendengar apa pun? Lidah kita bisa merasakan makanan dengan nikmat. Pernahkah kita bandingkan dengan saat kita sedang merasakan sariawan?
Atau pelajaran untuk mensyukuri yang tak pernah kita perhatikan ini. Cobalah perhatikan tarikan nafas kita, bagaimana paru-paru merasa lega dengan adanya oksigen yang masuk ke relungnya. Mungkin karena hal biasa, maka tarikan nafas yang teratur ini tak pernah kita perhatikan, apalagi kita syukuri. Tapi cobalah pergi ke ruang ICU rumah sakit. Anda akan menjumpai pasien yang untuk bernafas harus ditopang dengan banyak peralatan medis. Itu pun nafasnya satu-satu dan nampak susah menghirup oksigen. Sudahkah kita mengambil pelajaran ini?
Masih banyak rejeki yang harus kita syukuri. Keselamatan ketika berangkat dan selama bekerja. Jalan yang mulus dan lancar, bagaimana jika dibandingkan saat terjebak kemacetan dan jalan rusak berdebu?
Kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan pekerjaan. Bagaimana jika kita sedang bete dan pekerjaannya memang sulit untuk diselesaikan? Kesehatan badan sehingga kita bisa beribadah dengan baik. Bagaimana jika ternyata sedang diuji dengan sakit? Keleluasaan waktu bisa membuat semakin mendekatkan diri kita dengan Allah. Bagaimana jika sampai tua kita hanya disibukkan dengan urusan duniawi?
Banyak rejeki yang harus disyukuri. Dan yang paling penting dan paling disyukuri dari semua rejeki itu adalah rejeki iman dan Islam.
Dari apa yang dicontohkan Rasulullah kita bisa memetik pelajaran, bersyukur ternyata tak hanya mengucapkan syukur. Kita harus memakai seluruh potensi yang diberikan, apakah kesehatan, keleluasaan, kemauan, atau kekuatan lahiriah dan batiniah untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah. Inilah cara bersyukur yang benar.
Mumpung lho. Mumpung belum dipepetkan oleh Allah dengan sakit yang membuat kita khawatir mati, maka lebih baik kita mepet dulu kepada Allah dengan segala waktu luang kita, kesehatan kita, kekuatan kita dan kemauan kita. Caranya? Perbanyaklah mengingat Allah dengan berzikir dan mengerjakan ibadah-ibadah shalat maupun puasa sunah. Lalu istiqomahlah (konsisten) dalam mengerjakannya.
Ingatlah apa yang diingatkan oleh Rasulullah. Ingatlah masa mudamu sebelum masa tuamu, ingatlah masa sehatmu sebelum datang sakit, ingatlah waktu hidupmu sebelum datang kematian.
Sekali lagi, pelajaran apa yang sudah kita ambil dari Ramadan ini? Kesadaran untuk mengambil pelajaran sangat penting, karena kita betul-betul akan tahu apa yang akan kita lakukan selepas bulan puasa. Yang sudah kita ambil itulah yang akan jadi bekal kita mengarungi sebelas bulan sampai insya Allah bertemu Ramadan tahun depan. Semoga Allah SWT memudahkan kita mengambil pelajaran, memahamkan pikiran dan hati kita, dan memudahkan kita mengamalkannya.
2 Comments