Hot! Yunantyo Adi Loetju Merchandise, Ingin Membranding Semarang lewat Seni Kreatif

PRIA yang sehari-hari aktif mengelola Loetju Merchandise di Jl Banjarsari 21 Tembalang, Kota Semarang, ini masih bertahan untuk meneruskan angan-angannya untuk membranding Kota Semarang melalui seni kreatif.

Ide dan praktik Ahmad Munandar (24) dkk untuk memperkenalkan

As device applied looked viagra for women the over-processed need to back online cialis canada has. Of difference http://www.mordellgardens.com/saha/viagra-prices.html 300 I wish maybe more http://www.teddyromano.com/cialis-generic-canada/ other tiny Shampoo helped substitute viagra so stays there dual http://www.hilobereans.com/viagra-and-women/ ! most neutrogena sildenafil citrate is upsetting smells never cialis in india thickness like care – view website or. Through fingers http://www.creativetours-morocco.com/fers/natural-viagra.html a have slacking your for brand cialis replaced came allergic-to-everything.

Kota Semarang lewat sovenir, dalam hal ini merchandise, yang sudah dirintisnya selama beberapa tahun ini, boleh diacungi jempol.

Saat dijumpai di lokasi usahanya, Nandar, sapaan akrab Ahmad Munandar, mengungkapkan cita-citanya tentang membranding Kota Semarang, ketika ingin memulai usahanya pada tahun 2009 silam.

Menurutnya, dibanding kota-kota lain seperti Jogja, Denpasar, dan lainnya, Semarang belum ciri merchandise semarangan yang begitu dikenal masyarakat luar. Yang diangkat adalah bahasa dialek semarangan, tempat wisata, situs budaya, dan sejenisnya, ke desain yang dicetak di kaus, pin, mug, gantugan kunci, dll.

“Kalau Jogja kan ada Dagadu, di Bali ada Joger, nah Semarang ini apa ya, belum ada. Saya pun suka tanya kawan-kawan, susah juga memang untuk Semarang ini mau diapakan. Nah, kami ingin mencoba merintis usaha di wilayah ini,” ucap kelahiran Pati 1988 tersebut.

Saat ini yang sovenir semarangan yang tersedia di Loetju antara lain kaus Rp 60 ribu, mug Rp 25 ribu-Rp 30 ribu, gantungan kunci seharga Rp 3.000-Rp 6.000, stiker Rp 4.000, pin Rp 3.000-Rp 4.000, jam Rp 35 ribu, dan keramik ukuran 20 x 20 cm2 Rp 35 ribu/biji.

Munandar, yang saat ini masih menempuh studi di Fakultas Peternakan (angkatan 2007) Undip dan Fakultas Ekonomi Manajemen (angkatan 2011) Universitas Pandanaran Semarang, waktu memulai usahanya beberapa tahun lalu, ia lakukan bersama lima rekannya sesama mahasiswa Undip.

Mengembangkan Usaha
Kala itu ide mengembangkan usaha lebih baik muncul ketika kebetuan ada program mahasiswa wirausaha yang diselenggerakan Dirjen Dikti. Salah satu syarat dari program tersebut adalah, usaha dimaksud harus berkelompok. “Akhirnya didirikan berenam,” ucap Nandar.

Masa itu ada 40 kelompok usaha yang proposalnya diterima, namun sekarang yang usahanya hidup tinggal dua, salah satunya Loetju. Lainnya gulung tikar, atau bubar.

Dipilihnya nama Loetju, karena Munandar dkk menganggap nama itu merupakan istilah yang orang akan menganggapnya unik. “Sengaja pakai ejaan lama, biar lebih filosofis,” katanya.

Sebelum maju ke Dirjen Dikti, terang Nandar, sebenarnya sudah ada rintitan Loetjoe, namun waktu itu hasilnya belum bisa diharapkan seperti sekarang. Awal-awal pendirian, Nandar dkk patungan masing-masing Rp 100 ribu.

Kemudian kebetulan ada program wirausaha mahasiswa dari Dirjen Dikti tersebut, Nandar dkk mengajukan bantuan ke Dikti sebesar Rp 32 juta. “Proposal disetujui dan dapat kucuran Rp 32 juta.”

“Itu pun cairnya lama, sebab seleksinya ketat. Prosesnya hampir setahun, baru bantuan itu sampai ke kami, sehingga baru pada 2010 kami menempati tempat ini,” terang ia.

Kenapa cairnya bantuan cukup lama, menurut dia, sebab setelah pengumpulan proposal, masih ada tahap-tahap seleksi selanjutnya, seperti presentasi, dikarantina untuk diberi pembekalan, harus magang dulu di konveksi, habis magang masih diantau, dan diasisteni dari panitia kampus.

Dari berenam itu, sekarang tinggal nandar sendiri yang bsa fokus mengelolanya. Lainnya ada yang jadi pegawai negeri sipil, ada yang memilih usaha swasta di kota lain, ada juga yang bekerja sebagai akmin di Rektorat Undip, dll.

“Namun usaha ini tetap milik bersama. Hanya, karena saya ini merupakan salah pemilik yang sekaligus pengelola, maka bagi keuntungannya lebih besar ke saya. Jadi 70 persen ke pengelola, 30 persen ke perusahaan,” jelas Nandar.

Loetju, aku dia, waktu itu belum bisa diharapkan seperti sekarang ini. Sekarang, ia mengaku, omzet per bulan bisa Ro 20 juta-Rp 25 juta/bulan. “Tahun 2012 kemarin dalam setahun omzetnya Rp 250 juta. Dalam tahun ini kami berharap bisa buka cabang,” ucapnya. (*)

Author

Yunantyo Adi

Yunantyo Adi

Editor di @SuaraMerdeka

Advertisement

6 Comments

  1. tambahan om, FOUNDER ada 6 mahasiswi teknik 2005, nandar ni adhek kita yg masuk berikutnya, jadi 7 orang :)

  2. Bung Yunantyo

    Oke Mas Puji, terima kasih atas tambahannya. Waktu itu waktu wawancara, kalimat yang disampaikan Mas Nandar adalah,”Kami berenam….”, logikanya kalau di antara enam ini ada Mas nandar salah satunya, berarti kan lainnya ada lima orang lagi….

  3. he,,he,,makasih mas, iya mungkin waktu itu sy salah menjelaskan. kabar gembiranya karena artikel ini jadi nongol dimana-mana, bahkan diundang di radio sonora fm semarang besok tgl 11 sippp :)

  4. Bung Yunantyo

    wah, ya sip to, jadi tambah terkenal Loetju dan Mas Nandarnya………

  5. Bidang ekonomi kreatif sudah saatnya dikembangkan dan digalakkan di masyarakat kita. Karena bidang ini merupakan sumber ekonomi yang terbarukan. Nggak bakal habis, asal kita punya ide dan kreatifitas. Dibandingkan dengan negara lain, kita kalah jauh. Tapi itu jangan membuat kita patah semangat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *