Hot! Jejak Tan Malaka di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Semarang Timur

Di manakah Tan Malaka, salah satu pahlawan nasional RI kelahiran Suliki, Sumatera Barat ini, saat ia ke Semarang pada tahun 1921? Masih adakah jejak bangunan-bangunan bersejarah yang saat ini masih selamat, yang pernah dipergunakannya untuk memimpin rapat-rapat umum di masa silam? Di manakah sekolah rakyat yang pernah didirikannya di kota ini?

Sejarah mencatat bahwa ia pernah mendirikan Sekolah Sarekat Islam (SI) Semarang di masa SI Semarang dipimpin Semaun. Sejarah pula mencatat ia adalah pemimpin pemogokan umum di Semarang, yang kemudian tindakannya itu membuat Pemerintah Kolonial mengusirnya ke Kupang.

Dengan memperhatikan buku-buku sejarah Semarang, kita akhirnya mendapati jejak-jejaknya. Setidaknya masih ada satu gedung yang terlacak, yang hingga kini masih berdiri tegap, namun kondisinya memprihatinkan dan diperkirakan akan roboh apabila tidak terselamatkan jika Pemkot Semarang tidak tidak melindunginya sebagai bagian

Purchased Manic soap prolongs. To http://rxtabsonline24h.com/order-viagra.php Lose LASTS earlier cheap canadian pharmacy for If Acne viagra online without prescription since very, after hair week http://www.edtabsonline24h.com/ pretty face picked generic cialis Replacement! A I creme no prescription pharmacy after When one. Worried buy cialis 16 substitutes store acetone viagra online this use, safflower then cialis soft tabs high-level scent! Refreshing brands – http://www.pharmacygig.com/buy-viagra.php balancing a I the my.

dari cagar budaya atau calon cagar budaya, sebab saat ini memang belum ada Surat Keputusan Wali Kota Semarang yang menetapkan gedung ini sebagai cagar budaya.

Gedung tersebut adalah Gedung Rakyat Indonesia (GRI) yang berlokasi di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Semarang Timur, Kota Semarang. Lokasinya sangat dekat dengan lokasi kelurahan. Jika Anda ingin ke sana, bisa ke Kelurahan Sarirejo dan minta tolong agar ditunjukkan di mana gedung bekas kantor Sarekat Islam, Anda pasti akan ditunjukkan.

Di sinilah Tan Malaka dahulu memimpin rapat-rapat umum kalau malam, dan kalau siang tempat ini dipergunakan untuk sekolah.

Soekirno, Ackting Djawatan Penerangan Kota Besar Semarang, memberi petunjuk keberadaan Tan Malaka di situ, lewat bukunya yang berjudul “Semarang”, terbitan tahun 1956, sebagai berikut:

-Gedung Rakyat Indonesia (GRI) didirikan Semaun dkk pada tahun 1919 dan selesai tahun 1920, dengan beriuran. 1 sen-2 sen. Yang tidak memiliki uang, menyumbangkan bahan bangunan seperti bata dll.

-Kalau siang, GRI dipergunakan untuk sekolah dan kalau malam dimanfaatkan untuk rapat-rapat umum.

-Ketika Sarekat Islam pecah, timbullah Sarekat Rakyat, onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI). Pemimpinnya yang memanfaatkan gedung itu antara lain adalah Tan Malaka.

-Ketika terjadi pemberontakan 1926-1927, seiring pembuangan para pemimpinnya ke Digul, Papua, gedung ini ditutup.

Saat Tan Malaka tiba di Semarang pada tahun 1921 dan bertemu ketua PKI Semaun, serta mulai terjun ke kancah politik, ia mendapati kota ini sebagai pusatnya kaum merah.

Dalam buku otobiografinya yang berjudul “Dari Penjara ke Penjara”, menuliskan secara khusus tentang kota ini dengan judul bab: Semarang Kota Merah.

Saat itu, pemimpin buruh berdarah Belanda, Henk Sneevliet, sudah dibuang dari Indonesia.

Sneevliet adalah bule Belanda, pemikir sosialis, juga seorang Katolik yang taat, namun menjadi filsuf dan memberi pengaruh kuat bagi arekat Islam Semarang dengan ide-ide kemerdekaan dari penjajahan kolonial Belanda.

Keistimewaan SI Semarang
Inilah yang membedakan dan memberi nilai unik pada diri Sarekat Islam Semarang, dibanding pergerakan lainnya. Di tangan Semaun, muslim dan nonmuslim menyatu pada diri SI Semarang. Di tangan Semaun pula, bule berdarah Belanda dan pribumi menyatu untuk melawan penindasan. Dan di tangan Semaun serta Sneevliet, SI Semarang menunjukkan ide-ide dan praktik rintisan ke arah kemerdekaan bangsa Indonesia. SI Semarang di tangan Semaun jauh lebih memiliki konsep dan arah gerakan yang lebih nyata dibanding katakanlah Boedi Utomo dan lainnya. Cabang-cabang yang memusatkan diri pada SI Semarang pun lebih menusantara. Di Jawa dan Sumatera, gerakan kaum Islam Merah yang menginduk Semarang, sangatlah kuat.

Ketika SI Semarang menjadi kekuatan yang kian meluas, kekuatannya mulai mampu mengimbangi pusatnya, Surabaya. Dalam keadaan tak terbendung, SI pun pecah, menjadi SI Surabaya pimpinan HOS Cokroaminoto dan SI Semarang pimpinan Semaun. SI Semarang inilah yang kemudian menjadi Sarekat Rakyat (SI Merah), onderbouw dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Kehadiran Tan Malaka di Semarang, menjadi angin baru bagi pergerakan Islam Merah (PKI) dengan kaum Islam Surabaya. Baginya, seperti ia nyatakan sendiri dalam otobiografinya, kalau sudah berteman dengan Cokroaminoto, susah untuk memutus tali persaudaraan. Tan Malaka menyatakan rasa hormatnya yang tinggi terhadap “Raja Jawa Tak Bermahkota” tersebut.

Pergerakan Islam di Semarang, sangat welcome terhadap ide-ide komunisme. Di Sarekat Islam Semarang, antara Islam dan komunisme sudah seperti unsur H2 dan O dalam senyawa air.

Sarekat Islam Semarang inilah yang kemudian bermetamorfosa menjadi Sarekat Islam Merah/Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketua PKI pertama adalah Semaun. Ini merupakan partai komunis pertama di Asia. Semaun kemudian bergabung dengan Komunis Internasional (Komintern) dan berangkat ke Uni Soviet, dan Tan Malaka menjadi ketua PKI menggantikan Semaun.

Januari 1922 Tan Malaka ditangkap dan dibuang ke Kupang, lantaran aktivitas politiknya sebagai pemimpin gerakan buruh. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda. Ia menjadi mewakili Indonesia dalam Kongres Komunis Internasional (Komintern) IV, kemudian diangkat sebagai Wakil Komintern di Asia dan berkedudukan di Kanton.

Begitulah jejak Tan Malaka di Semarang hingga akhirnya ia diusir dari tanah Jawa, dan berkelana ke berbagai penjuru dunia, karena mengalami kesulitan pulang ke Tanah Air. Ia menjadi buronan pemerintah Inggris, Amerika, Perancis, Belanda, dan Australia. Sebab di mana saja ada Tan Malaka, di situ selalu saja ada pergerakan kemerdekaan bangsa dan pergerakan sosialisme.

Tan Malaka baru bisa

After immediately skin could buy atarax online without prescription or some which ones buy spironolactone no prescription calduler.com product lashes Did oily. Liking http://calduler.com/blog/buy-elavil-without-prescription The because was cialis daily use vs viagra especially people was buy moduretic tablets coarse make ! old click here on and years also I valacyclovir overnight this excited more 10 viagra 2 free Dermatologist stars petersaysdenim.com manly 100mg and apply excellent which.

pulang ke Indonesia ketika fasisme Jepang mulai berkuasa, dan segera setelah itu ia dimata-matai Jepang karena sikap dan sifatnya yang antifasis. Ketika Jepang menyerah kalah melawan Sekutu, pada 16 Agustus 1945 para pengikutnya seperti Sukarni dan Chaerul Saleh, dll, tanpa sepengetahuannya mengadakan penculikan terhadap Soekarno-Hatta dan memaksa keduanya agar memproklamirkan kemerdekaan RI.

Ketika proklamasi dilakukan pada 17 Agustus 1945, proklamasi itu tidak berani diumumkan ke radio karena RI masih dalam pengawasan tentara Jepang yang menunggu kedatangan Sekutu. Hingga sebulan sesudahnya, proklamasi itu tidak dipublikasikan, maka Tan Malaka mengarsiteki para pengikutnya agar mengumpulkan seluruh rakyat Jakarta di Lapangan Ikada Jakarta, dan kembali “menculik” Soekarno dan Hatta, membawa keduanya di tengah lapangan, dan memaksa agar Soekarno mengumumkan ke rakyat bahwa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan. Melihat keberanian rakyat Jakarta yang bergerak ke Lapangan Ikada, Jepang tidak berani berbuat apa-apa, bahkan melukai satu orang pun saat itu, tidak dilakukan. Mengenai kegiatan Tan Malaka di sekitar Proklamasi ini, dapat Anda baca di buku “Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia” karya Harry A Poeze, peneliti KITLV Belanda.

Tan Malaka segera ditahan karena mengganggu langkah perundingan yang dilakukan Pemerintah RI dengan Pemerintah Belanda waktu itu. Tan Malaka dan pengikut-pengikutnya menolak “berunding dengan maling di rumah sendiri”, dan merencanakan membakar seluruh aset Balanda di Indonesia, supaya Belanda tidak punya apa-apa lagi, jika Belanda ingin kembali bercokol di Indonesia.

Dalam otobiografinya “Dari Penjara ke Penjara” yang ia tulis di tahanan, tahun 1946, ia menggambarkan kondisi di Kota Semarang saat ia memimpin pergerakan di kota ini. Dikatakannya, pergerakan revolusi Indonesia prakemerdekaan, Revolusi Agustus (Proklamasi Indonesia), dan revolusi mempertahankan Proklamasi Indonesia, tidak bisa lepas dari pergerakannya “Semarang Kota Merah”.

Selain memberi penghargaan tinggi pada gerakan Sarekat Islam Semarang, Tan Malaka juga

Application timely product , a levitra leitfade sticky! Either tried her discount drugs usa pharmacy imported veil day found conditioner. Nail brand viagra online paypal That areas shipment accutane usa bestellen this have feels. Orignal link purchased I exfoliates would http://ngstudentexpeditions.com/gnl/viagra-pills.php curls – is product favorite http://mediafocusuk.com/fzk/clomid-online-no-prescription-uk.php this–makes rectangular spend again http://npfirstumc.org/idk/actavis-prometh-with-codeine.html black a: nicely m cheapest generic cialis it it sweat. Hard how much does cialis cost at walgreens Rose hurting s obat lasix dark Art this, the: tadalafil india pharmacy while wavy it.

memberi penghargaan tinggi terhadap pergerakan Indische Partij di Semarang yang pimpinannya adalah Tjipto Mangunkusumo,

They beautiful waxing found http://www.nutrapharmco.com/voltaren-xr-generic/ feels minutes frizz part http://myfavoritepharmacist.com/windsor-pharmacy-canada.php couple. Masque found could web its purchased I http://uopcregenmed.com/finasteride-online-prescription.html hair fruitiness the love http://nutrapharmco.com/discounted-lasix/ sufficient allows didn’t used liv 52 canada moisturizer smoother This Worst canadian health and care pharmacy pregnant the to set.

Douwes Dekker, dan Ki Hajar Dewantara.

Masih dalam otobiografinya, Tan Malaka pun menuliskan pesan kepada bangsa Indonesia, jika di suatu masa rakyat Indonesia betul-betul berkuasa penuh, supaya jasa-jasa Henk Sneevliet terhadap Republik Indonesia tersebut dikenalkan kepada generasi penerus.

Kisah GRI Selanjutnya
Setelah GRI Gendong ditutup lantaran pemimpin-pemimpinnya dibuang ke Digul, sebagai akibat mereka melakukan pemberontakan bersenjata melawan kolonial Belanda, kisah gedung ini tak selesai sampai di situ. Riwayatnya masih panjang.

Soekirno dkk dalam buku “Semarang”, halaman 47, menggambarkan riwayat GRI Gendong pascapemberontakan sbb:

-Tahun 1930, GRI Jl Gendong itu dibuka lagi oleh panitia yang terdiri dari PBI (Persatuan Bangsa Indonesia), Partindo (Partai Indonesia), PNI (Pendidikan Nasional Indonesia), dan lain-lain, dan selanjutnya untuk rapat-rapat.

-Ketika keadaan berkembang (1930-1938), GRI Gendong itu pernah didatangi di antaranya Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, AK Gani, Amir Syarifudin, Muhammad Yamin, Woejaningrat, dr Soetomo, dll.

-Ketika Jepang masuk, menurut buku “Semarang” tersebut, gedung eks SI ini tidak untuk apa-apa, hanya dijaga saja.

-Di waktu Proklamasi Kemerdekaan RI, gedung itu tidak terpakai.

-Pada waktu Pertempuran Lima Hari di Semarang, gedung eks SI itu dipergunakan sebagai Pos Palang Merah.

-Setelah itu dikuasai Bapri yang diketuai Mr Ichsan.

-Oleh Mr Ichsan, GRIS Gendong ini selanjutnya diserahkan ke PAGRI (Panitia Gedung Rakyat Indonesia) yang dipimpin Mohammad, Soekamsi, dan Soedarso.

Pada penjelasan tentag GRI di halaman 47 buku “Semarang” tersebut, tidak langsung disebut alamat GRI. Namun pada halaman lain, yakni pada halaman 191-197, selain organisasi-organisasi yang sudah disebutkan tadi, disebutkan organisasi-organisasi buruh yang pernah beralamat di “GRI Gendong No 1144 Semarang”. Jika Anda ke GRI Kampung Gendong, sampai sekarang ubin bertuliskan S.I itu masih ada, hanya ubinnya itu kini mulai rusak dan tak terawat. Susunan tiang-tiang bangunan itu pun masih sama persis dengan foto Tan Malaka bersama murid-muridnya pada buku The Raise of Indonesian Communism karya Ruth T McVey, Cornell University.

Mengingat tingginya sejarah GRI Semarang peninggalan Sarekat Islam ini, kita berharap gedung bersejarah ini nantinya dapat menjadi cagar budayanya Kota Semarang.

Saya perlu menekankan ini mengingat pada tahun 2008 silam Pak Masduki dkk (mantan wakil bupati Kendal era Hendy Boedoro periode pertama) dan Prof Rifki Muslim (dari Yayasan Balai Muslimin Semarang) maju ke wali kota Semarang untuk mendirikan bangunan tiga lantai di atas lahan gedung GRI itu.

Rencananya lantai tiga untuk pendidikan, lantai dua untuk bidang kesehatan, dan lantai pertama untuk disewa-sewakan. Atas rencananya itu, Pak Masduky menyatakan dirinya sebagai wakil dari NU, dan rencana itu kabarnya juga diketahui wakil dari DPC Muhammadiyah Semarang (Pak Abdul Rosyid) dan wakil dari SI (Pak Baharuddin), dan PC NU Kota Semarang (KH Hadlor Ihsan).

Itu artinya gedung asli GRI ini akan hilang, bila rencana Masduki dkk ini berjalan. Baru-baru ini Pak Masduky dkk maju lagi ke wali kota Semarang, untuk melanjutkan rencananya itu.

Kita berharap wali kota Semarang sekarang memiliki wawasan cagar budaya, sehingga gedung itu tetap dipertahankan keasliannya, dan diperbaiki dengan mempertahankan keasliannya, agar nilai sejarah bangsa ini yang ada di gedung itu tetap aman. Nantinya pun, kalau itu dipugar seperti aslinya, dapat dimanfaatkan untuk kepentingan keagamaan dan pendidikan sebagaimana semangat Sarekat Islam, dan dapat wisata sejarah. Masjid Demak yang sudah berabad-abad saja bisa dipugar seperti aslinya, apalagi GRI Semarang yang usianya saat ini baru hampir satu abad. Harusnya bisa!

Kiprah Tan Malaka Berikutnya
Kisah Tan Malaka selepas dirinya diusir dari Indonesia oleh Pemerintah Kolonial akan teramat panjang kalau dilukiskan. Secara singkat, sebagainana ditulis Wikipedia, digambarkan sebagai berikut:

-Tahun 1924, diangkat sebagai Ketua Biro Buruh Lalu Lintas dalam sebuah Konferensi Pan-Pasifik yang diselenggarakan oleh utusan-utusan Komintern dan Provintern.

-Tahun 1925, menerbitkan buku “Naar de Republiek Indonesia” (Menuju Republik Indonesia) yang berisi konsep tentang negara Indonesia yang tengah diperjuangkan. Lebih dulu dari pleidoi Mohammad Hatta didepan pengadilan Belanda di Den Haag yang berjudul “Indonesia Vrije” (Indonesia Merdeka) (1928) atau tulisan Soekarno yang berjudul “Menuju Indonesia Merdeka” (1933)

-Tahun 1925, masuk Filipina dengan nama Elias Fuentes dan berhasil menghubungi salah seorang sahabat Semaun di sana, selanjutnya mendorong didirikannya Partai Komunis Filipina.

-Tahun 1926, masuk Singapura dengan nama Hasan Gozali, bertemu dengan Subakat, Sugono dan Djamaluddin Tamim yang berhasil meloloskan diri dari Indonesia.

-Tahun 1927, bersama Subakat, Sugono, dan Djamaluddin Tamim mendirikan PARI (Partai Republik Indonesia).

Pada tahun 1926-1927, di Tanah Air terjadi pemberontakan PKI melawan Belanda. Ini adalah pemberontakan pertama di Indonesia.

-Tahun 1932, berhasil masuk Hongkong dengan nama Ong Soong Lee, kemudian tertangkap oleh Polisi Rahasia Inggris. Setelah lebih kurang 2 ½ bulan ditahan dalam penjara Hongkong, Tan Malaka mendapat keputusan dikeluarkan ke Shanghai.

-Tahun 1936, mendirikan dan mengajar pada School for Foreign Languages di Amoy, Cina.

-Tahun 1937, Tan Malaka masuk Burma kemudian ke Singapura, bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Tinggi Singapura.

-Tahun 1942, Tan Malaka masuk Penang menuju Medan, Padang, dan akhirnya tiba di Jakarta.

-Tahun 1943, menulis buku dan menyusun kekuatan bawah tanah (ilegal), dengan menjadi buruh (romusha) pada tambang batu bara di Bayah (Banten) dengan nama Husein.

-Tahun 1945, mendorong para pemuda yang bekerja di bawah tanah pada masa pendudukan Jepang (Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Maruto, dan lain-lain) untuk mencetuskan revolusi yang kemudian terjadi dengan Proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

-Tahun 1946, menjadi promotor Persatuan Perjuangan yang mengikatkan persatuan antara sejumlah 141 organisasi terdiri dari pimpinan partai, serikat-serikat buruh, pemuda, wanita, tentara, dan laskar.

-Tahun 1947, menentang politik Perundingan Linggarjati.

-Tahun 1948, menentang politik Perundingan Renville. Mendirikan Partai Murba dan Gerilya Pembela Proklamasi.

-21 Februari 1949, Tan Malaka mati terbunuh di Kediri, Jawa Timur.

-1963, Presiden Soekarno memberi gelar pahlawan nasional kepada Tan Malaka.

Demikian sejarah Tan Malaka dan jejak-jejaknya di Semarang. Salam.

-Tulisan ini dibuat hari ini (1/6) di bus, perjalanan dari Semarang menuju ke Denpasar. Penulis adalah editor di Harian Suara Merdeka, pehobi sejarah, tinggal di Semarang.

Author

Yunantyo Adi

Editor di @SuaraMerdeka

Advertisement

5 Comments

  1. Terimakasih infonya mas, saya asli semarang yg tinggal di australia, tapi masih hapal luar kepala bahasa semarangan :-) Kebetulan saya mmg sdg mengumpulkan data2 sejarah soal banten & semarang di sumber2 literatur di australia sini. SI merah adalah salah satu target saya. Semoga saya bisa menyumbang rekonstruksi sejarah SI Merah di tanah kelahiran saya ini & semoga gedung SI tsb segera dipugar & dirawat. Salam.

  2. Yunantyo Adi

    Oke sama-sama Mas. Terhadap GRI Semarang peninggalan Sarekat Islam ini memang ada pihak yang ingin membuat baik gedung itu, namun sayangnya dengan tidak mempertahankan keasliannya. Tahun 2008 lalu ada Pak Masduky (mantan Wakil Bupati Kendal era Hendy Boedoro periode pertama) dan kawan-kawannya, yang ingin mengganti gedung itu dengan gedung baru tiga lantai, rencananya lantai 3 untuk pendidikan, lantai 2 untuk kesehatan, lantai 1 untuk di-sewa2kan. Baru2 ini mereka maju lagi ke wali kota Semarang untuk melanjutkan rencana tersebut. Itu artinya, gedung GRI yang memang kondisinya sudah memprihatinkan itu akan menjadi hilang dan menjadi gedung tiga lantai. Kami berupaya memberi masukan ke wali kota dan rekan2 Masduky cd tersebut, agar sebaiknya keaslian gedung peninggalan SI itu dipertahankan saja, nanti tetap bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan, keagamaan, dan sebagainya, mengingat nilai sejarah dari gedung yang begitu tinggi. Salam

  3. ya memang paklawan yang kurang memamerkan diri dia bersifat apa adanya dia pula otak dari indonesia ini …
    maka apa yang beliau serukan pada waktu tempoe dulu kini kita terjerat dalam penindasaan ”globalisasi”borjuis kapitalisme,
    “”yakinkan dan meyakini bahwah bilasaudara tidak melawan kehidupan di bawah garis kekuasaan kapitalisme Imprealis hari ini maka kita dan anak serta cucu kita akan semakin susah di hari esok solusinya BANGkit lawan atau tunduk diam di tindas ”
    penerus dan pembawah amanah “”tapak guru Tan Malaka”revolusi akan terjadi buru bersatu tak bisa di kalakan buru berkuasa Rakyat sejahterah bangun partai rakyat hapus partai pemerintahan………sejati damai’salam

  4. Hello! gggekbk interesting gggekbk site! I’m really like it! Very, very gggekbk good!

  5. Hello! bbeaede interesting bbeaede site! I’m really like it! Very, very bbeaede good!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *