Hot! Sasongko Tedjo Jokowi oh Jokowi

Walikota Surakarta Joko Widodo yang akrab dipanggil Jokowi mempunyai ketenaran yang luar biasa paling tidak dibanding kepala daerah lain di Indonesia. Ia kini menjadi seorang newsmaker sehingga seakan-akan semua media gemar memberitakan tentang sepak terjangnya. Setelah terakhir resmi menjadi calon gubernur DKI yang diusung PDI Perjuangan, kabar baik masih saja datang. Jokowi masuk dalam daftar nominasi walikota terbaik sedunia versi The City Major Foundation. Tetap saja menarik walaupun kita belum tahu seberapa kredibel lembaga tersebut.

Saya pun termasuk pengagumnya karena gaya kepemimpinannya yang sangat controversial dalam artian positif. Ia seperti melawan arus di tengah maraknya pejabat yang bergaya hedonis, korup dan haus kekuasaan. Ia seperti mampu menjadi teladan dan panutan di tengah kegersangan pemimpin yang dianggap mengerti rakyatnya. Bahkan konon kabarnya ia rela kekayaannya menurun setelah lima tahun menjabat sebagai walikota.

Citra Solo sebagai sebuah kota dengan slogan Spirit of Java pun makin moncer. Kendati gambaran sejatinya belum tentu seindah namanya. Belum tentu sebagus promosi yang didengung-dengungkan. Namun tetaplah ada ‘’sesuatu’’ di sana. Paling tidak walikota yang satu ini tampaknya benar-benar dekat dengan warganya dan memperoleh dukungan sangat besar. Ketika ia akan maju sebagai cagub DKI banyak yang merasa keberatan. Poster-poster besar terpampang dengan tulisan : Biarkan Jokowi tetap di Solo.

Sebenarnya dalam ukuran yang lebih riil keberhasilan seorang Jokowi belum terlalu nampak. Tetapi bukan berarti pencitraannya hanyalah sebuah pepesan kosong. Ada ajaran nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya. Moralitas dalam kepemimpinan adalah sesuatu yang langka pada saat ini. Dan itulah yang masih dimiliki Jokowi. Prinsip moralitas yang baik sangatlah sederhana namun tidak mudah menjalankannya.

Kita tidak boleh menggunakan orang, tidak boleh membunuh orang untuk menyelamatkan orang lain dan kita harus melakukan apa yang menguntungkan orang yang terkena tindakan kita ( James Rachels, 2003 ). Moralitas yang baik seperti itu hampir selalu diabaikan para pemimpin kita baik di pusat maupun daerah. Maka keberadaan seorang Jokowi benar-benar memberi makna besar. Salah satu langkah fenomenal yang dilakukan misalnya adalah ketika ia berhasil menggusur ratusan pedagang dengan damai. Walaupun harus berdialog berulang-ulang namun hasilnya sangatlah diterima karena tidak ada yang dirugikan. Tidak perlu menggunakan satpol PP.

Kepemimpinan yang mampu meneladani membawa arus perubahan besar di lingkungan internal birokrasi maupun masyarakat luas yang merasa mempunyai pemimpin andal dan terpercaya. Kita belum sampai menilai dari indicator yang lebih obyektif dan luas. Kita sudah merasa terwakili dan tercukupi manakala melihat sang pemimpin mampu mengayomi dan memberi teladan. Jauh dari godaan untuk mengurus kepentingannya atau memperkaya diri sendiri. Saya yakin partai pengusungnya pun tak meminta jatah ‘upeti’ terlampau besar karena ikut menyesuaikan.

Bahaya Popularitas

Popularitas begitu mudah diraih berkat pemberitaan di media massa baik cetak maupun elektronik. Siapa yang tak kenal Jokowi yang juga sudah menerima banyak dukungan lewat jaringan media social seperti facebook dan twitter. Yang dikhawatirkan kemudian adalah pada control diri akibat terlalu popular.
Tidaklah perlu diragukan komitmen dan konsistensi seorang Jokowi terhadap nilai-nilai moral kepemimpinan yang sudah seperti menjadi wataknya. Namun popularitas yang tinggi bisa justru membuat seseorang menjadi ‘mabuk’ karena mendengar banyak tepuk tangan dan pujian. Bak seorang penari yang sangat bersemangat karena iringan musiknya juga makin bersemangat.

Akibatnya justru bisa bertindak di luar proporsi atau pun hanya sekadar ingin meningkatkan pencitraan diri. Padahal sebenarnya sudah tidak dibutuhkan karena yang harus segera dipenuhi justru soal-soal yang lebih substansial.

Mirip dengan Jokowi adalah Menteri BUMN Dahlan Iskan yang juga popularitasnya meroket karena berbagai tindakan nyentrik yang dilakukan. Semua menyorotinya ketika ia dengan sigap membuka pintu tol gara-gara petugasnya belum datang sehingga antrean mobil begitu panjang. Masyarakat merasa senang dan bangga karena apapun yang dilakukan pemimpin semacam itu sangat prorakyat. Membela kepentingan masyarakat dan menjauhkan dari kepentingan pribadi. Tetapi bisa menjadi sesuatu yang menjemukan manakala pencitraan yang lebih sering terjadi dan mungkin bisa dikesankan agak kebablasan.

Ada contoh lain terkait Jokowi. Dukungan penuh bahkan cenderung berlebihan terhadap mobil Esemka, tentu menjadi sesuatu yang perlu diapresiasi. Namun segala sesuatunya harus dilakukan dengan terukur agar ia tak lupa bahwa dirinya ‘hanyalah’ seorang walikota. Demikian juga ketika Dahlan Iskan tidur di rumah penduduk beralaskan tikar. Pastilah mengundang simpati masyarakat namun tetaplah tak boleh dilupakan bahwa Dahlan ‘hanyalah’ Menteri BUMN. Apa sih maunya? , begitulah orang mungkin bertanya.

Cagub DKI

Sampailah akhirnya pada soal pencalonan Jokowi dalam pilkada DKI. Walaupun kita tak tahu apakah itu lebih karena desakan partai atau memang keinginan pribadi, majunya Jokowi menjadi kandidat gubernur di DKI Jakarta memang patut dipertanyakan. Sebenarnya ia secara tak sadar melanggar dari komitmen moral yang selama ini dipegangnya. Juga ada masalah etika politik di sana. Karena sebenarnya ketika maju untuk periode kedua memimpin Surakarta, Jokowi sudah mengikatkan diri untuk memimpin selama lima tahun.

Ternyata sekarang belum ada separoh jalan sudah berniat meninggalkan tugas itu. Di sinilah yang patut disesalkan terlepas dari itu sebagai sebuah kelaziman dalam politik atau juga tak ada dilanggar secara hukum. Mungkin banyak juga warga Solo yang merelakan dan bahkan bangga karena dianggapnya menjadi gubernur DKI itu seperti ‘naik pangkat’. Tetapi bagaimana kalau sebaliknya yakni tak berhasil? Akankah ini menjadi antiklimaks bagi seorang Jokowi?

Saya bukan analis politik yang mampu memprediksi peluang Jokowi dalam Pilkada DKI nanti. Tetapi ada sebuah penggambaran sederhana tentang keberhasilan pemimpin yang juga ditentukan oleh ruang dan waktu. Ketika Pak Mardiyanto sukses memimpin Jawa Tengah dan pada waktu yang hampir bersamaan Pak Sutiyoso juga dianggap berhasil memimpin DKI, pada waktu itu saya berandai-andai. Yakni seandainya keduanya ditukar tempat maka bisa jadi keduanya bakal gagal. Argumennya sederhana karena lebih kepada karakter masing-masing.

Sulit untuk menemukan teori yang tepat untuk membuktikan argumen itu namun terus terang ada kekhawatiran karena sebenarnya sukses Jokowi itu ya hanya untuk Solo bukan untuk tempat lain apalagi ibukota yang bak rimba belantara. Memang pemimpin yang andal harus bisa ditempatkan di mana pun dan berhasil. Tetapi tetap saja ada dalam teori manajemen yang disebut dengan the right man in the right place. Mudah-mudahan saya keliru tetapi saya tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran itu.

Author

Sasongko Tedjo

Sasongko Tedjo

Sasongko Tedjo, wartawan Suara Merdeka dan Ketua Panitia Idemuda Kadin Jateng

Advertisement

12 Comments

  1. Ah, .. itu cuma perasaan sampeyan saja.
    Yang jelas saat ini rakyat indonesia membutuhkan pemimpin seperti jokowi dan dahlan iskan. Gak usah terlalu dicari-cari analoginya, yang wajar saja. Jika beliau gagal jadi DKI-1, mungkin Allah akan mempersiapkan beliau menjadi RI-1 atau RI-2, paling nggak ya menteri

  2. ya didoain ja pak yg banyak banyak..moga kekhawatiran itu tidah terjadi,..karna kita jg ingin jakarta berubah ke arah yg lebiah baik,.
    mungkin kalo seandainya pak jokowi menang,..jakarta bisa lbih baik,.seperti halnya ketika beliau memimpin kota solo..amin..

  3. Walah mas, sampeyan dulu pas menkopolkam mundur di tengah jalan untuk nyapres apa ya protes dengan membuat analysis news semacam inikah? Juga waktu menko kesra mundur di tengah jalan utk jadi cawapres? Ato hanya utk Jokowi saja Anda begitu KRITIS mencari-cari? Ah, Anda orang Semarang yah? Anggota PWI (dan bukannya AJI) yah? Boleh tahu afiliasi partai Anda? Golkar yah? Kalau benar begitu, ya PANTESAN SAJA :) )

  4. selamat dan sukses untuk BAPAK SPIRIT OF JAVA. mohon tularkan ilmu Anda Pak, terutama untuk Bapakku BUPATI KABUPATEN BREBES. kami butuh sosok pemimpin yang mulia seperti Anda. Mantorsuwuuun :)

  5. bagus banget artikel nya pak,, saya juga sependapat dg isi tulisan anda akan kekhawatiran kalau jokowi hanya akan sukses di kota solo saja. karena selama ini yang saya lihat memang jokowi berhasil lebih dari segi moral sementara kemajuan fisik kota ge begitu kentara jika dibandingkan dengan beberapa kota lain di jawa tengah, dan ini lah poin kritisnya. bukannya meragukan, tapi ini wujud kekhawatiran aja. ya semoga kalau menang bisa membawa DKI menjadi lebih baik.

  6. suara merdeka selasa, 10 april 2012 ttg eksistensialisme ala jokowi by dr ir a rudyanto soesilo dosen filsafat dan etika politik program pascasarjana unika agar indonesia tidak kehilangan peluang pemimpin yg mengobarkan semangat manusia modern utk kemajuan umat, bermoralitas dan berintegritas, berkomitmen tinggi yg menurut saya dibutuhkan bagi kota sebesar jakarta saat ini …… salaam

  7. Setuju,namun menurut saya partai pengusung tentu lebih memilih faktor electabilitas daripada kapabilitas seseorang untuk bersaing dalam sebuah kontes pemilihan,ini tentang mencari seseorang yg mungkin dapat diandalkan keluar sebagai juara dalam pemilihan Kepala Daerah dan untuk mendapatkan predikat sebagai pemimpin yang dapat diandalkan dalam memimpin sebuah Daerah diperlukan waktu 5 tahun untuk menilainya.

  8. benar bos sasongko…..jakowi belum teruji kepemimpinanya…..kalau ukuranya suskes di solo mana nya yg sukses?? saya setuju gayanya merakyat…namun begitu di berambisi mencalonkan gubenur dki…sedikit terbuka “NIATANYA”…..ternyata tetap sama mencari kekuasaan sesaat…..alasan dibalik itu omong kosong smua lah….mendukung mobil esemka tak lebih polularitas aja…..kalau mau belajar bikin mobil kirim saja anak esmeka ke jepang berbagai teknologi mobil terkini ilmunya ada smua disana….sama dengan kalau mau bikin serabi…SERABI ENAK YA SOLO GUDANGNYA, kira kira begitu.
    prinsip mendukung membuat mobil untuk menambah ilmu bagi anak anak di bangku sekolahan….tanpa mobbil esmeka saja negeri ini sudah macet bagaimana jdnya kl produksi mobil bertambah terus….ukuran keberhasilan seeorang pemimpin dinegeri ini sangat temporer…..jd sangat tidak bisa dijadikan landasan untuk melihat bahwa sesorang sukses menjadi seorang pemimpin….sosok jokowi MUNGKIN bagus gayanya, namun dia kayanya termakan ambisi partai yg mengusung dia…ambisi partai tau sendiri….hanya duit dan duit saja apapun partainya, nah sebaiknyajokowi menolak dengan alasan mau membawa solo ke arah yg lbh maju, bukknajustru menerima tawaran partai…dari pada berambisi mengatasi kemacetan dan banjir di jakarta…atasi dulu banjir di solo krn luapan bengawan….pastikan kalau di setiap perempatan TIDAK ADA PENGEMIS DAN GEPENG….baru boleh mngeklaim kalau sukses memimpin solo….jgn ukuranya jalanan bersih….sering blusukan pasar menyapa warga, bangun sistem yg baik disolo sehingga kedepan siapapun pemimpin solo bisa dgn menjalankan baik warisasn jokowi……sekian

  9. Mbah Anang, jangan sok pinter menilai orang, urus dirimu sendiri aja dulu, kayanya sampaian IQ nya belum nyampai untuk menilai Jokowi. Kayaknya terlalu rendah dinilai dirimu. Pasti sampean dibayar sama Foke you kan????

  10. Jokowi itu supplier utama IKEA (perusahaan furniture dunia yg akan investasi ke Indonesia) dan akan buka cabang banyak di Jakarta dan Indonesia.. Posisi dia Gub DKI tentu akan sangat strategis utk memuluskan bisnis tersebut. Di topang oleh Djan Farid sebagai sponsor utama kampanye mereka, salah seorang penjahat bisnis di Jakarta, yg menguasai pasar tanah abang, pdhl kewenangan PD Pasar Jaya, yg akan segera dituntut ke pengadilan oleh PD Pasar Jaya.. Bagaimana Jokowi memang ditendang keluar Jawa Tengah karena Tjahyo Kumolo ingin maju jadi jadi Jateng I.. ah, kalian terlalu picik menilai, hanya liat kulit luar dan pencitraan di media massa yg sudah sangat korup dan sangat mudah dibeli..!!

  11. lg nyimak aja nih kang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Switch to our mobile site