Nyaman Berkereta Api Bersama Ibu Sud
“MARI naik kereta api dengan percuma”. Ajak Ibu Sud pada lagu anak-anak ciptaannya “Kereta Apiku” yang sohor itu. Artinya, bagaimana kita bisa naik kereta api dengan nyaman, bahkan dengan cuma-cuma alias gratis pula.
Namun faktanya, jangankan gratis, naik kereta api dengan untuk nyaman saja susah. Kalau ingin nyaman ya harus bayar mahal, itu sebabnya pengelola kereta api memakai klasifikasi, semakin eksekutif dan wangi semakan mahallah dia.
Belakangan, PT Kereta Api Indonesia (Persero) makin berbenah, meski belum sampai pada tataran reformasi.
Terakhir kebijakan satu tiket satu identitas diterapkan, pertama untuk melayani kenyaman penumpang agar tidak ada yang berdiri. Di sisi lain untuk mengurangi gerak percaloan. Meski, seperti kata teman saya pengamat transportasi publik Djoko Setijowarno, calo akan tetap ada, untuk mencari celah agar dia bisa lagi bermain.
Beberapa hari stekah lebaran kemarin, hari Rabu (23/8) tiba-tiba wajah Tunjung Indrawan, Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan merah padam. Rupanya dia merasa tersanjung saat Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengatakan, tahun ini kinerja PT Kereta Api Indonesia cukup bagus dalam pelayanan transportasi lebaran.
Kata Bambang, lebih rapih dan relatif tertib, menyusul kebijakan baru satu tiket satu identitas satu kursi itu tadi misalnya.
Wamenghub mengatakan itu di depan 1.486 penumpang balik di kapal perang KRI Banda Aceh Rabu (23/8) lalu di Pelabuhan Tanjung Emas saat memberangkatkan kapal layanan gratis pemudik itu ke Tanjung Priok Jakarta.
***
Tak urung, para penumpang KA pun mengapresiasi kebijakan demi kebijakan dari PT KAI itu. Dengan sistem satu tiket satu identitas nama penumpang, terbukti bisa mempersempit gerak calo, itu memang terbukti. Kalau pun masih ada calo, calon penumpang harus pikir dua kali kalau ingin membeli lewat catutan.
Benarkah layanan perkeratapian lebih bagus? “Ya, sekarang relatif lebih bagus daripada sebelumnya,” ini kata Bernadette Mayasanthi, ketua tim inspeksi Ditjen Perkeratapian saat melalukan sidak di beberapa stasiun di Semarang.
Bernadette dan timnya adalah “polisi”nya perkerapian Indonesia. Inspektor Keselamatan Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan ini, punya hak untuk menghentikan semua
kegiatan yang tidak sesuai dengan pelayananan transportasi bagi masyarakat khususnya menyangkut keselamatan penumpang.
Menurut Bernadette ES Mayasanthi, setidaknya pihak dia bisa memberi rekomendasi dan mengusulkan pada PT Kereta Api Indonesia (Persero) jika menemukan fakta yang tidak sesuai upaya kesalamatan pengguna angkutan kereta api.
***
Namun ternyata, angin segar bagi PT KAI itu harus ditebus dengan fakta menurunkan angka penumpang selama musik lebaran 2012.
Pihak PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 4 Semarang misalnya, harus menerima kenyataan bahwa selama musim lebaran 2012 tidak ada lonjakan penumpang yang berarti, bahkan trennya menurun dibandingkan dengan tahun 2011 dan 2010.
Tapi tren penurunan penumpang dari total kelas kereta api dari 6 stasiun yang dibawahi Daop 4 yakni Bojonegoro, Cepu, Tawang, Poncol, Pekalongan dan Tegal itu tergantikan oleh puasnya banyak pihak atas pelayanan kereta api.
“Secara kuantitas penumpang memang turun tapi kualitas pelayanan penumpang naik, semenjak kami menetapkan kebijakan baru dengan 100 persen penumpang, dimana satu tiket satu tempat duduk. Kalau dulu 125 persen, sehingga penumpangnya bisa berdiri, yang mengakibatkan lonjakan penumpang,” kata Sapto Hartoyo, Manajer Humas Daop 4, Sabtu malam (25/8).
Namu Sapto mengatakan, meski di daerah operasi dari Bojonegoro sampai Tegal mengalami penurunan, tapi jumlah penumpang tiba dan berangkat dari Tawang justru naik, tapi Sapto tidak menjelaskan angka kenaikan itu.
Bukti penurunan penumpang itu bisa dilihat pada arus balik di ke 6 stasiun. Yakni H+4 tercatat 12.397 orang penumpang dan tahun 2011 (20.703). Pada H+3 (12.618), tahun 2011 (16.944). Pada H+2 (13.968), tahun 2011 (17.121) dan pada H+1 (12.046) dan tahun 2011 (17.548).
Ya, memang lebih baik begitu. Menerima kenyataan dengan arif dan legawa, bahkan menyikapinya dengan positif. Ini sebagai bukti, PT KAI lebih dewasa dan tidak lagi bernafsu mengejar laba dengan mengabaikan kenyamanan dan keselamatan penumpang.
“Naik kereta api tut.. tut..tut.. siapa boleh turut…” benar kata Ibu Sud.
Kita sebagai masyarakat layak berterima kasih kepada pemerintah khususnya PT. KAI yang mau berbenah diri. PT. KAI menurut saya sudah melakukan kinerja yang baik. Kini penumpang mendapatkan pelayanan yang lebih baik lagi dari pada kemarin-kemarin.
Meskipun saya belum pernah naik kereta api, dari membaca tulisan bapak saya bisa mendapatkan informasi yang bermanfaat tentang perkembangan kereta api.
Ngomong-ngomong, lagu itu adalah lagu kesukaan saya saat masih kecil, hehehe.
Terima kasih pak.
Jadi inget waktu pertama kali naik kereta api dari Semarang ke Babad Jatim ke tempat nenek. Inget betul waktu itu ibu bilang berangkat keretanya jam 04.00. kita sekeluarga berangkat ke Stasiun Tawang Jam 03.00, namanya juga masih anak2 seneng aja… gak taunya kereta berangkat jam 06.00 waahhh terkapar di stasiun.
Waktu itu naik yang kelas bisnis kata ibu… eh gak taunya didalam nya kayak pasar rame banget banyak yang jualan… pengalaman banget.
Jadi pengin naik kereta lagi yang argo2 itu… tp kemana ya…? nenek udah dimakamkan di Boyolali
Saya seminggu kemarin ke Jakarta dari Bandung dan sepertinya pelayanan PT. KAI maki lama makin menuju lebih baik.