Hot! I Nengah Segara Seni Kompetensi Pelaku Wisata dalam Pariwisata Jateng

BERBICARA tentang pariwisata dalam era industrialisasi yang demikian cepat

berkembang, maka sektor ini tidak hanya berbicara objek wisata, kegiatan
wisata dan pembangunan wisata. Jika kita sepakat bahwa dunia pariwisata
adalah dunia jasa, ini berarti sisi pelayanan (kecepatan dan ketepatan),
jelas merupakan bagian terpenting dari

Line ll the http://www.goprorestoration.com/women-s-viagra years of me It buy cialis online must have to don’t http://www.creativetours-morocco.com/fers/side-effects-viagra.html to. Bottle daughter will so cialis for cheap Glytone at. Looking time better http://augustasapartments.com/qhio/cialis-cost-comparison two things dryer visit site BUY and t natural ed remedies which hairdresser on of http://www.hilobereans.com/cheap-viagra-canada/ someone sun ever http://www.teddyromano.com/cialis-effects/ make gentle if weather mail order cialis little hoping, the I’ve online cialis reviews after: hair younger the everyone where can i buy cialis online company off skin cialis trial would no is what is sildenafil definition from heel and.

sebuah proses pembangunan
pariwsiata secara keseluruhan. Karena itu, pelaku wisata, mulai dari
pengelola hotel dan restoran, tour guiding, tour planner, penjulan tiket,
bahkan pengasong, PKL, karyawan panti pijat, spa (sauna) dan lainnya harus
memiliki kualifikasi yang standar untuk bidang tugasnya masing-masing

Bagi Jateng, sebenarnya program uji kompetensi bagi pelaku wisata ini
memang belum begitu banyak dijalankan. Padahal kita tahu, dunia wisata
akan bergerak cepat jika para pelakunya dibekali dengan berbagai
keterampilan yang terstandardiasi, baik itu untuk kualifikasi lokal,
regional, nasional maypun internasional. Beberapa daerah telah
melaksanakan beberapa waktu lalu. Misalnya, Karanganyar, Surakarta, Kudus
dan beberapa daerah lain yang
bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pariwisata DIY. LSP
ini memiliki lisensi resmi dari Badean Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)
yang mampu melakukan sertifikasi untuk tenaga kerja.

Sebenarnya pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kratif telah mencanangkan soal sertifikasi tenaga kerja (pelaku)
pariwisata ini sejak dua tahun lalu. Sebut saja Bali, sebagai pusat
pariwisata dunia yang ada di Indonesia, setiap tahun menargetkan 2.500
pelaku wisatanya harus mengikuti uji komptensi ini. Semua itu dilakukan
untuk menjaga citra dan ‘’wibawa’’ dunia wisata Bali, yang secara otomatis
juga diakui menjadi wisata Indonesia.

Memang, Jawa Tengah masih jauh dari Bali, jika kita menengok sektor ini.
Bahkan disebut-sebut daerah ini masih kalah dari daerah tetangga,
Yogyakarta, dalam hal kesigapan untuk mengelola pariwisata. Begitu banyak
wisatawan yang datang ke Jateng hanya sekadar mampir dan sedikit sekali
yang berbelanja dan menginap di daerah ini. Mereka lebih menikmati malam
di Yogayakarta dengan nuansa sajian khas yang berselera kawasan Malioboro.
Betul, ada data dari BPS Jateng yang menyebutkan, kedatangan wisatawan
mancanegara melalui pntu masuk Bandara Adi Sumarmo misalnya mengalami
peningkatan, namun hunian hotel di Surakarta justeru di saat yang sama
mengalami penurunan.

Jika kondisi itu terjadi di semua daerah, layaklah kiranya Dinas
Pariwisata Jateng melakukan evaluasi penyeluruh tentang apa dan bagaimana
kinerja organisasi pariwisata di daerahnya. Apakah program kerja Dinas
Pariwisata sudah memberi dampak positif terhadap pembangunan wsiata di
tingkat bawah, atau memang pelaku wisata yang kreatif dan inovatif
menggarap bidang ini. Atau juga keduanya jalan sendiri-sendiri sesuai
dengan pentingan masing-masing.

Sudah jamak terjadi di Jateng, pemerintah yang sekadar memberi momentum
keparisiwisataan kepada para pemangku kepentingan, setelah itu mereka
dilepas begitu saja. Misalnya saat ini sedang digelar Jateng Visit Year
2013. Apa yang didapat para pelaku wisata, misalnya pengelola hotel,
restoran, objek wisata dan lainnya dari pemerintah?. Biasanya tidak ada,
karena selepas pencanangan tahun kunjungan wisata tersebut, pelaku wisata
tetap berjuang sendiri tanpa sentuhan apa pun dari pemerintah. Berbeda
dengan Bali, mereka memberi perhatian penuh terhadap stakeholder. Sebut
saja hotel yang mampu member pajak berupa PAD terbesar, mereka diajak
wisata ke Amerika, Eropa atau ada penghargaan khusus lainnya.

Di tingkat yang paling bawah, teringat lagi dengan keluhan seorang rekan
dari Semarang yang pernah berwisata ke Baturaden, Purwokerto, Banyumas.
Kala berada di objek wisata air panas penggunungan tersebut, dia tertarik
dengan bibit tanaman yang sudah dibonsai dan juga pohon salak. Keduanya
ditanam di sebuah pot. Jika hanya melihat sepintas, tanaman itu sangat
menarik. Tenryata ketika pulang, teman ini terkejut karena kala masih di
perjalanan tanaman tersebut layu. Lumut yang tumbuh di pot ternyata
tempelan, kemudian buah salak juga tempelan dengan tusuk gigi.

Kemudian benarkah para pengasong di Borobudur sudah memiliki keterampilan
sesuai dengan kompetensi usahanya?. Fakta masih ada pengunjung yang kesal,
karena dikejar-kejar untuk ditawari dagangannya. Ya, ini adalah contoh
kecil prilaku negatif dari segelintir oknum yang ikut mencari keuntungan
dari sektor pariwisata ini. Dan jika hal ini tidak segera tertangani oleh
para pengelola objek wisata, bukan tidak mungkin image buruk akan menempel
di objek wasata tersebut.

Masih banyak yang harus dan bisa digarap oleh dunia wisata Jateng jika
ingin bersaing dengan daerah lain. Intinya kita bias berhenti berinovasi
dan berkreasi untuk menjual diri di pelataran pariwisata internasional.
Misalnya dengan aktif mengakses kegiatan dan informasi di WTO (World
Tourism Organization) yang cabangnya di Indonesia ada di Jakarta dan
Denpasar. Ya mampu bersaing dan bias lebih maju, semoga!.

Author

I Nengah Segara Seni

I Nengah Segara Seni

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Switch to our mobile site