image

Foto: Istimewa

15 Februari 2018 | 06:13 WIB | Suara Kedu

Bela Diri Perlu Jadi Olahraga Wajib di Sekolah

WONOSOBO, suaramerdeka.com- Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Wonosobo mendorong kegiatan bela diri menjadi olahraga wajib di kalangan pelajar. Seluruh sekolah diharapkan bisa memasukan bela diri sebagai salah satu kegiatan ektrakurikuler wajib di sekolah. Dorongan itu menyusul adanya keprihatian tindakan kekerasan hingga pengeroyokan di kalangan pelajar yang terjadi di wilayah Kecamatan Wadaslintang akhir Januari lalu.

Ketua IPSI Wonosobo, Sumekto Hendro menyebutkan, kegiatan bela diri diawali dengan penguatan karakter. Sebab, bela diri bukan mengajarkan perkelahian atau kanuragan, tetapi juga kedisiplinan, sportivitas dan budi pekerti. "Kami mendorong semua pihak, guru, orang tua dan pemerintah bersatu, berkomitmen membangun karakter bersama. Hidupkan titik-titik kegiatan positif bagi remaja dan pemuda di Wonosobo," ungkapnya.

Pihaknya sangat prihatin dengan kasus pengeroyokan anak SMP terhadap anak MTs di wilayah Wadaslintang, bahkan sampai berujung kematian. Kasus seperti itu semestinya bisa dihindari, seandainya para pelajar bisa berkegiatan positif dan tidak mudah terpengaruh oleh tayangan sinetron yang tidak mendidik. "Meskipun saya belum tahu motifnya, tetapi kasus seperti itu patut disesalkan dan tidak perlu lagi terjadi. Sekolah harus memperbanyak kegiatan positif,” tandas dia.

Kegiatan-kegiatan positif tersebut bisa berbentuk olahraga, pengajian dan kegiatan yang lain. Itu untuk mengurangi kasus-kasus kejahatan di kalangan remaja, khususnya pelajar di Wonosobo. Pihaknya mengaku sudah mengembangkan banyak kegiatan positif, seperti di Munggang Mojotengah sudah ada perguruan silat, muangthai dan wushu. Di Kecamatan Kepil juga terus berkembang. "Kalau tidak ada kegiatan positif, arahnya jadi ke tawuran, keroyokan dan kegiatan negatif lain,” terangnya.

Sekretaris Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wonosobo itu menyebutkan, dalam konteks bela diri mengenai kasus tersebut, tergantung dua hal. Pertama, dari kesiapan orang yang dipukul atau yang memukul, dan kedua kondisi fisik yang dipukul dan yang memukul. Jika sama-sama kondisi fit, tanpa bodi protektor sekalipun belum tentu berujung pada hal fatal. Di sini dirinya melihat, betapa pentingnya olahraga, kebugaran dan bela diri.

Pihaknya tidak berhak menyimpulkan persoalan kasus tersebut, namun menurutnya menjaga kondisi kebugaran dan kesiapan fisik dalam menghadapi berbagai hal, tetap penting, apalagi yang menyangkut kegiatan olahraga dan bela diri. "Terdapat beberapa titik fatal pada tubuh manusia, yang mana dalam setiap pertandingan bela diri, titik tersebut juga wilayah yang selalu harus dilindungi," terang pria berkumis tersebut. 

Disebutkan, titik rawan tersebut meliputi bagian dada, tepatnya di ulu hati, di belakang kepala dan di leher. Karena, ketiga titik bagian tubuh tersebut jika terkena pukulan dampaknya korban bisa langsung pingsan. “Maka dalam tanding bela diri, mereka tidak diperkenankan memukul bagian belakang kepala. Namun yang penting bagi saya, kalau bisa bela diri menjadi olahraga wajib di kalangan pelajar,” harap dia.

Berkelahi merupakan hal yang sangat terpaksa. Jika memang bisa harus dihindari. Semua pihak, harus bisa mengendalikan emosi, mendinginkan pikiran untuk menyelesaikan semua persoalan dengan lapang dada. Kalau terpaksa terjadi maka upayakan hindari, kalau bisa lari. “Kalau satu lawan satu ya gimana lagi. Tapi kalau pengeroyokan, ya lebih baik lari saja. Lari bukan pengecut demi menghindari masalah hukum,” bebernya.

(M Abdul Rohman /SMNetwork /CN39 )